Sarapan Pagi

delicious ^^

delicious ^^

 

Kalau orang di kampung sini bilang Pisang Lempeneng, nggak ngerti bahasa di tempat lain. Belom begitu tua tapi batangnya roboh. Biar cepat masak diakalin dengan di peram  dalam plastik dan dikasih daun sirisidah. Daun sirisidah berguna untuk mempercepat pemasakan secara alami bukan menggunakan karbit kimia. Pisang Lempeneng ini kalau sampai masa tua panjang-panjang, rasanya manis sedikit asam. Cocok di goreng  atau di rebus juga enak. Seperti sarapan pagiku kali ini, Pisang Lempeneng rebus dilumuri susu kental manis… hmmm… yummiii ^^

 

Kota Kelahiran, Mei 2012

Anak-Anak Indonesia

 

Anak kecil
mungil
berkulit sedikit gelap
berambut ikal
tetap tampak manis
polosnya wajah anak-anak
gigi susunya habis dimakan gula-gula
dek lia namanya
anak pelosok jogja

sempat aku tanya
tentang tokoh-tokoh kesukaanya
si biri-biri shaun, kadal gurun,
beruang besar dan bodoh,
sikembar dari negeri tetangga,
itulah favoritnya

aku kembali bertanya
dek lia nggak suka unyil?
“Unyil itu siapa?” berbalik tanya

kalau mau bobo bapak sama ibu suka mendongeng?
“ndak pernah, kan nonton tivi sebelom bobo”

dek Lia hanya bagian dari anak-anak negeri kita.

Kota Kelahiran, Mei 2012

Bersama Orang-Orang Baik

Kalau ibu-ibu chentingsari jalan kira-kira bakal kemana dan ngapain?

Ini entah yang keberapa nongkrong di shoping Jogja berdua saja. Bu Ketan sama Bu Mesharoh. Mumpung libur. Haha, maksudnya Bu Mesharohnya yang mumpung libur. Kalau saya mah masih libur terus, asikkk kan?

BuMesh & BuKetz

BuMesh & BuKetz

BuMesh yang manis ^^

BuMesh yang manis ^^

Itu kisah Pagi. Lalu Siangnya?
Awalnya, berbalas komen blog sama kawan. Sama papanya Unyil sebulanan lalu. Waktu dia pamer tulisan di blog tentang pariwisata daerah asalnya Sulawesi Selatan. Ujung-ujungnya malakin, minta makan coto gratisan. Siapa sih yang bakal menentang keinginan Bu Ketan? Lanjut membaca

Among-Among

Among-Among

Bocah-bocah kecil berkumpul
mengitari nampan
sebelum mulai tangan masuk kekobokan
berdoalah dahulu sebelum makan
dan wajib dihabiskan
jika bersisa matilah ayam kalian
Among-among, diperingati tiap weton kelahiran

Among-among

Among-among

 

Jogja, Mei 2012
S – o – p – h – y

 

Aku : Orang Jawa Yang Tak Tahu Jawa

Miris sekali dengan judulnya, orang Jawa yang tak tahu Jawa.

Beberapa waktu lalu, aku sempet ngobrol ngalor ngidul bareng sahabat Gin tentang pendidikan. Sebetulnya ini tema obrolan yang nggak ada habisnya. Carut marutnya pendidikan, dibahas, diurai, dipikirkan ataupun mau diapain juga begitu-begitu saja. Bahkan banyak banget hal yang sebetulnya ingin kutuliskan, nyatanya nggak jadi-jadi juga.

Suatu kali si mamang ini bercerita tentang hal yang membuatnya tertarik untuk dipelajari lebih mendalam. Katanya, dia banyak mengamati orang-orang tua. Kecerdasan orang jaman dulu dengan kini sangat jauh berbeda. Menurutnya lagi, dia sering terpesona dengan kemampuan orang-orang tua dalam melakukan pekerjaan, menganalisis, memperhitungkan sesuatu dan sebagainya. Padahal orang-orang tua tersebut tidak sekolah tinggi-tinggi. Menghitung kebutuhan bahan baku bangunan, ukuran dan biaya pembuatan rumah misalnya, tak perlu banyak waktu, hanya segini, segini, dan segini, ketemu totalnya. Tanpa corat caret, tanpa kalkulator, pokoknya tanpa alat bantu apapun dengan mudah diselesaikan. Padahal hanya lulusan SR (Sekolah Rakyat).

Memang, pengalaman pasti sangat berpengaruh. Tapi, bisa jadi memang proses pembelajaran jaman dulu juga memberikan pengaruh besar. Jaman dahulu, menulis di atas sabak dan setelah selesai pelajaran sabak dibersihkan. Bagaimana murid tetap bisa mengerti materi yang telah diajarkan. Coba tanyakan sama simbah-simbah jaman dulu bagaimana menghitung luas atau volume tabung? aku yakin mereka masih mengingatnya. Dan hal inilah yang menarik untuk dipelajari lebih mendalam. Kumpulkan saja cerita-cerita para orang tua tentang SR dan mungkin dapat banyak pelajaran.

Lanjut membaca