Abah Sulthon dan Bunda Sulthon

Ciyeeeehhh fotonya mesraaah ciyeeeehhhh.

Abah dan Bunda. Ini sebutan enggak matching banget yak? Ahaha. Kok nggak Abah dan Umi biar ke arab-araban gitu. Atau yang ke barat-baratan Daddy and Mommy. Atau yang paling familiar Papa dan Mama. Atau yang ke-Indonesia-an banget, Bapak dan Ibu atau yang lebih ngetrend lagi sekarang Ayah dan Bunda. Lah ini, satu kemana yang lain kemana? Ahahaha.

Ada beberapa teman yang sempet komplain juga nanyain, kok agak aneh ya? Lalu saya jawab enteng kan belom pantes saya disamain macam “umi pipik” gituuuu… Ahaha.

Abah.

Sejarahnya dulu begini. Kita bertemu memang berasal dari dunia yang berbeda. Bukan Abah itu manusia lalu saya ini jin dan sebaliknya. Maksudnya background kehidupan kita yang sangat jauh berbeda.

Abah dari kecil hidup di pondok, belasan tahun nyantri di beberapa pondok pesantren. Ini juga yang melandasi saya mendukung gerakan “ayo mondok” dan sedari sekarang sudah mulai mikir dan memantapkan hati dan rasa kapan sebaiknya Sulthon masuk pondok pesantren. Dan karena ini pula, kenapa Abah lebih nyaman “sarungan” kemana-mana, karena kebiasaan dari Abah kecil.

Suatu malam, ketika saya hamil sambil gegoleran cantik sebelum tidur biasanya kita sambil ngobrolin sesuatu. Termasuk rencana panggilan anak pada kita. Sepupu-sepupu Sulthon semua panggil Ayah Ibu, jadi saya ngusulin biar samaan aja.

Ayah? aku malu, nanti kalau ketemu teman-teman bagaimana? Mereka semua dipanggil Abah, aku sama semua orang tua panggil abah, masa sama anak sendiri dipanggil ayah. Suami saya protes. Ahahaha. Kenapa sih nggak mau jadi orang yang berbeda? Cuek saja kenapa yak.

Oke kami pun sepakat, besok bayi lahir suami dipanggil Abah. Lalu bagaimana dengan saya? Ahahaha, ngebayangin aja enggak untuk dipanggil umi. Emak petakilan gini mah belom pantes yak? Maka itu saya milih dipanggil, Ibu.

Bunda.

Nah ini yang aneh, sesuai kesepakatan kami bahwa panggilan anak ke saya itu Ibu. Dari brojol saya menyebut Ibu untuk Sulthon. Pas dia mulai bisa ngomong, kok panggilan ke saya terdengar aneh. Makin lama makin jelas, dia nyebut “Nda Ina”.

Ini diluar dugaan, dari mana ya dia manggil begitu. Ditelusuri, mungkin dari dalam perut dia sering dengar anak-anak kecil manggil saya begitu. Iya, dulu sempat ngajar di paud dekat rumah. Sampai sekarang bekas murid kalau jumpa masih kadang nyapa dengan manggil “bundaaaa”.

Abah dan Bunda

Dulu, sebelum menikah, ceritanya nostalgia sedikit lah yaaa. Saya suka dengerin dia bercerita, tanpa basa basi. Soalnya dia konyol, aneh. Tuh sampai temen mondoknya ngasih gelar ki Agung geblek. 

Dongeng ini itu. Bahas kitab ini itu. Pokoknya serba serbi kehidupan pesantren yang dialaminya. Takjub? Iyalah, ini menarik hal baru, karena saya nggak pernah ngalamin. Ya dari sini lah mungkin benih-benih cinta yang dia sebar itu mulai tumbuh dihatiku, ceilehhhhh macam abege aja ngomongin cecintaan syalala.

Masih ngomongin dulu, lagi cinta-cintanya saya mikirnya gini, wah kalau saya nikah sama si kang santri ini bakal seru nih. Saya bisa ngaji tiap waktu. Bisa jadi istri sholehah. Biar seimbang ilmu dari pendidikan formal yang saya pelajari.

Berjalan mulus enggak? Yang namanya sebuah hubungan pernikahan ya enggak selamanya mulus terus yak! Butuh lah yang namanya berantem. Alasannya kalau habis berantem, terus mesraaaa kayak perangko, berasa pengantin baru. Ehh pasangan lain kayak begitu enggak sih?! 

Suka dukanya nikah sama santri itu, emm banyak apanya yak? Kalau bilang banyak susahnya nanti dibilang orang lupa syukur, kalau banyak sukanya kayaknya saya masih suka ngeluh ini itu. Hah! Tapi sama saja lah ya, serba serbi hubungan pernikahan. 

Tapi karena perbedaan latarbelakang itu tadi, ada banyak kisah seru yang saya alami. Misal, saya bangga pernah ketemu dan salaman sama pak Jokowi, lalu dia cerita mending dia pernah mijetin kyai-kyai besar nggak cuma salam dan cium tangan, lebih barokah! *saya melongo*.

Ada lagi kisah ngaji maiyah sama cak Nun, saya cukup dengan duduk manis mendengarkan, baginya enggak, lari menerobos sampai bisa salam dan cium tangan. *melongo lagi* kayak begitu ya santri? Ahahaha.

Itu tadi kisah konyolnya, ada hal yang sampai sekarang masih kami perjuangkan ya menghilangkan ego masing-masing kita. Ini terjadi karena sama-sama merasa saling memiliki jadi berhak memaksakan ini itu pada yang lainnya. Iya enggak Abah Sulthon? Hehehe.

Btw, ini saya ngelantur apaaan sih? Ahahaha. Kok malah curcol geje beginih! Mohon dimaklumi, ini ceritanya malam pertama ditinggal ngaji sampai pagi sama abah Sulthon. Jadi saya berdua sama Sulthon dirumah kontrakan baru di kota kecil bernama Purbalingga. Bingung insomnia sendiri, dan ada hasrat kepengen nulis. Ya uwisss asal nulis saja.

Bagaimanapun keadaan kami, abah dan bunda semoga mampu mendidik Sulthon dengan sebaik-baiknya. Aamiin.
Salaaaaam 😊

Posted in Tak Berkategori. Dengan kaitkata

Doa Milad yang Enggak Romantis

Begini ini gayanya abah Sulthon. Mana ada bahasa manis yang membuai sampai kepengen terbang. Sejak kenal, terus ngajakin nikah, sampai sekarang enggak pernah ngobral kata sayang.

Kata orang siy perlu untuk membahagiakan pasangan, iya nggak sih? Tapi buat saya siy nggak apalah ya, saya cukup pengertian memang gayanya gitu. Emm ya sama dengan saya, enggak pernah menyek-menyek bilang cintaku segede gunung atau seluas jagad raya.

Btw, pertengahan bulan kemarin pas saya milad dan suamu tidak dirumah hanya nulis di wall fb. Nggak manis tapi dalem. 

Iya, semoga saya ini tahu diri. Kan, kalau tak kenal diri maka tak kenal Tuhannya. Dan semoga lagi, abah tak pernah lelah menyebut saya dalam setiap doanya, ya bah. Aamiin.

Tengkyuuu abah 😘
———

Btw ini tulisan lupa mencet publish, maklum hari-hari terakhir ini sibuk pindahan. 😝

Posted in Tak Berkategori. Dengan kaitkata

Doa Milad yang Enggak Romantis

Begini ini gayanya abah Sulthon. Mana ada bahasa manis yang membuai sampai kepengen terbang. Sejak kenal, terus ngajakin nikah, sampai sekarang enggak pernah ngobral kata sayang.

Kata orang siy perlu untuk membahagiakan pasangan, iya nggak sih? Tapi buat saya siy nggak apalah ya, saya cukup pengertian memang gayanya gitu. Emm ya sama dengan saya, enggak pernah menyek-menyek bilang cintaku segede gunung atau seluas jagad raya.

Btw, pertengahan bulan kemarin pas saya milad dan suamu tidak dirumah hanya nulis di wall fb. Nggak manis tapi dalem. 

Iya, semoga saya ini tahu diri. Kan, kalau tak kenal diri maka tak kenal Tuhannya. Dan semoga lagi, abah tak pernah lelah menyebut saya dalam setiap doanya, ya bah. Aamiin.

Tengkyuuu abah 😘
———

Btw ini tulisan lupa mencet publish, maklum hari-hari terakhir ini sibuk pindahan. 😝

Posted in Tak Berkategori. Dengan kaitkata

Maaakkk, Jangan Sedih Ketika Anakmu tak Sehebat Anak Tetanggamu

Judulnya provokasi banget yaaak? Ahahahahaaaaa. Itu nasehat buat diri sendiri juga sebenernya, tapi kali aja ada yang baca dan ada nilai manfaatnya.

Jadi begini, beberapa hari lalu ketemu dengan orang dewasa dan anak kecil yang sepantaran Sulthon (usianya diatas Sulthon 10 bulan). Nggak perlu disebutkan siapa, ini nggak ada niatan ghibah untuk contoh case aja ya.

Sembari ngawasin anak-anak mainan, biasa emak-emak juga sambil ngomongin banyak hal kaaan? tentunya dari gosip artis, drama atau sinetron kesayangan, kasak kusuk tetangga sampai serba-serbi keluarga, dan tentunya tentang anak. Kalau saya sih enggak semuanya itu diomongin, seperlunya saja  soalnya sambil ngawasin anak yang super petakilan.

Pas kemarin itu, partner ngobrol saya ini beda. Banyaaaakkk banget ceritanya, tentang kehebatan teman Sulthon itu (kita sebut saja namanya si Fulan).

Begini ceritanya:

“Anu, si Fulan ini pinter dia udah bisa nyebutin ABC bahasa Inggris loooohhh, Sulthon gimana udah bisa belom?” 

“Si Fulan juga, sudah bisa berhitung sampai 10 pakai bahasa Inggris juga, Sulthon gimana?”

Dan banyaaaak lagi tentunya pertanyaan-pertanyaan yang penuh motif itu. Kira-kira gimana jawaban saya, ada yang bisa menebak? Ahahaha.

Jawaban ini tadinya nggak ada yang tahu, sampai akhirnya tiba masa berduaan sama Abah Sulthon ketika Sulthon sudah bobok nyenyak, curhatlah saya tentang cerita diatas. Reaksi Abah Sulthon gimana? Kepo juga saya jawab apa. 

Jawaban saya untuk semua pertanyaan itu mirip-mirip intinya tuh giniii… “Wah si Fulan hebatnya, Sulthon kalah jauh. Bundanya Fulan keren euy, rajin ya?” ahahaha, itung-itung membahagiakan orang. Tapi itu kadang yang makin bikin orang pamernya menjadi-jadi. 

Abah Sulthon sempat protes kok nggak diimbangin sih? Iya sih, meski saya jawabnya tenang meladeni tapi jujur sebel juga saya sama orang model begini. Sebelnya dikit aja kok, stok sabar masih ada lah kalau urusan gini.

Pernah nggak para emak ngalamin cerita kayak saya? Pernah dong ya tentunya. Ini masih mending nggak menyerang langsung, kadang ada juga orang yang langsung meremehkan anak kita tanpa basa basi. Nggak jarang kita dibikin jengkel karenanya.

Perlu nggak sih kita tanggepin yang begitu makk? Ya kalau kita sebel kebangetan, ada celah buat kita nyela yang nyela aja balik, gitu aja kok repot. Ahahaha.

Tapi dari pada kita pening apalagi kalau sampai dimasukin hati, kita ini lohhh para emak yang rugi. Kan, katanya para emak wajib, kudu bahagia biar bisa menciptakan anak yang merdeka.

Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak ada yang sama persis.

Mak, kita harus yakin bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak itu beda-beda. Contoh konkritnya berat badan. Kenaikan berat badan ini paling sering jadi bahan obrolan emak-emak. Seolah-olah kalau nambahnya banyak anaknya ginak-ginuk itu udah TOP banget. Padahal ya enggak mesti gitu juga, pantau saja di buku KMSnya, meski nggak banyak naik asal sehat ya nggak apa-apa.

Perkembangan kemampuan bayi under 1 juga begitu, ada anak yang cepat tumbuh gigi ada yang lambat. Ada yang lebih cepat bisa berbicara lambat kemampuan jalannya. Ada pula yang kemampuan motorik kasarnya kuat sehingga cepat pandai berjalan, tapi pertumbuhan gigi dan kemampuan bicara lambat. 

So… Mak nggak perlu khawatir kalau anak tetangga sudah ini itu, anak kita belum. Tapi, jangan terlalu santai juga kalau tumbuh kembang anak kita terasa lamban. Kita mesti punya patokan meski tidak saklek (bahasa opo meneh ini) maksudnya sesuai dengan patokan. Bisa dilihat dibuku-buku tumbuh kembang anak, buku dari posyandu atau download aja di internet, banyak. Kayak saya juga gitu, sebagai referensi saja.

Ketika kita merasa tumbuh kembang anak kita memang lambat, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memberi rangsangan. Misal kemampuan bicara lambat, seribg saja diajak ngobrol dan ajak nyanyi-nyanyi. Kalau lambat jalan, pakai baby walker, atau sering latih jalan atau kalau perlu bawa ke teraphis bayi, barangkali ada syaraf yang memang lemah. Tapi sekali lagi, harus dipahami betul ya mak, tumbuh kembang anak kita beda dengan anak lainnya.

Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang tepat.

Ini saya nemu quote saat mengikuti seminar pendidikan, saya lupa yang mana. Saya tanamkan dalam hati dan ingat-ingat agar tidak sekarepku sendiri menghakimi anak-anak.

Ada JK Rowling dengan Harry Potternya. Ada Susi Susanti dengan medali olimpiadenya. Ada Leonardo Davinci dengan lukisan Monalisanya. Ada Alm. KH Zainudin MZ dengan sebutan kyai sejuta umatnya. Masing-masing hebat di bidangnya. Satu sama lain tidak sama.

Sedikit ngomongin Multiple Intelligences. Bahwa setiap anak lahir dibekali dengan kecerdasan yang jamak. Atau orang biasa menyebut kecenderungan otak kiri untuk orang cerdas logika matematika, sains, visual spasial, menulis dan kecenderungan otak kanan untuk seniman, musik, fantasi, inter dan intrapersonal.

Dan sementara ini, tugas untuk mengenali kecerdasan jamak dibebankan pada para pendidik anak usia dini. Sebusa mungkin mampu mengenali kecenderungan bakat dan minat anak-anak agar mampu mengoptimalkan perkembangan kecerdasannya.

Kalau buat saya nih, orang tua jaman sekarang mestinya harus bisa mengambil alih tugas itu. Mampu bersinergi dengan sekolah tentunya, karena yang harus diingat bahwa tanggung jawab pendidikan anak adalah pada orang tuanya, guru, sekolah dan lembaga pendidikan itu tugasnya membantu orang tua dalam mendidik anak. Setuju makkk?

Mampu mengenali kemampuan anak-anak kita. Mana kecerdasan berdasarkan bakat minatnya, lejitkan. Dan mana bagian yang lemah, bisa dirangsang agar tidak timpang. Kan katanya, semakin seimbang bagian otak kanan dan kiri membuat kita semakin cerdas. Jangan mentang-mentang udah nyekolanin tugas mendidik anak sudah gugur gitu mak?

Repot ya mak? Kayaknya banyak banget hal yang mesti emak-emak perhatiin. Udah tua tuh nggak boleh berhenti belajar. Benar kan bahwa proses belajar itu sepanjang hayat. Berat yak? Iya memang, tapi percayalah repot dan berat itu kebayar lunas malah dapat bonus lihat si kecil bisa sehat dan ceria.

Btw ini ngelanturnya kepanjangan dan ngomongin hal yang agak berat yak? Ahaha. Back to topic, pokoknya mah gitu aja kalau nemu orang yang suka membanggakan anaknya dan seolah meremehkan anak kita, dicuekin aja nggak usah diambil hati. Kalau anak tetangga pandai bahasa inggris anak kita jangan sedih barang kali anak kita calon dokter. Anak tetangga jago matematika anak kita enggak, jangan salahkan anak barangkali anak kita calon artis.

Pesan terakhir siy, jangan pernah lupa berdoa untuk anak kita. Pendidikan sekeren apapun tidak masuk kecuali anak kita paham, dan Tuhan lah yang bisa memberi pemahaman. Jadi jangan pernah berhenti untuk meminta.

Daaann satu lagi jangan lupa untuk selalu ceriaaaa. Salam manis untuk para emak diseluruh duniaaaa πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹

Posted in Tak Berkategori. Dengan kaitkata

Menikmati Malang

Malam semuaaaaa…

Produktif ngeblog ya akhir-akhir ini? He ehh, karena ternyata nulis blog pakai HP nyenengin. aayik sambil momong atau sambil nenenin tetep bisaaa. Tau mudah begini kan dari dulu, nggak sampai libur menahun. 

Btw, kisah jalan ke Malang sebenernya agak usang. Ini cerita akhir tahun kemarin, baru sempat nulis. Barangkali nanti berguna untuk bekal cerita Sulthon.

Nggak ada planning jauh hari sebenernya. Kebiasaan kalau mau jalan direncanain dulu, malah sering nggak jadinya. Jadi inget hutang ke Wobosobo, mengunjungi sahabat tersayang, mbak Gendis belum jadi-jadi. Maap keeen mbaaak.

Rencana jalan ke timur sebenernya menuju Surabaya. Kebetulan ada rencana berburu ke #bigbadwolf2016 untuk Aruna dan kolpri tentunya. Tapi berhubung dana mepet, dan parno barangkali kondisinya bejubel kayak gudang gramed pas buka obral buku serba 5 ribu. Kebayang repotnya karena ada Sulthon yang ditenteng kemanapun. Meski sedikit tapi masih ada buku dari #bbw kebeli berkat kebaikan pelanggan aruna yang cantik dan baik hati mau dititipin.

Gagal ke Surabaya, malah merencanakan jalan ke Malang. Ini karena si Unyil adik Mesha yang ngomporin. Meski dana super mepet dan harus se-irit mungkin oke ajalah ada Aruna yang jadi sponsor, saya penasaran dengan Malang. Ini kota kayaknya momongable banget. Dari banyak informasi yang sliweran, bikin hati kembang kempis. Ikuuuuuut.

    Oiya, jalan kala itu juga tanpa Abah Sulthon. Jadi ini jalan-jalannya si “gank cantik” plus bocil iting satu. Sering banget ya saya jalan tanpa abah Sulthon? Emaaang, nanti kapan-kapan saya tulis alasannya, ya. Meski Abah nggak ikut, tapi Abah tetep menjaga kita pakai doa cinta dari jauh jadi tetep sosuiiittt deh.

    Malang itu kota sejuta taman!

    Jumlahnya mungkin enggak sampai sejuta siiihhh, tapi dimana-mana nemu taman. Ngobrol dengan supir taksi yang ngantar kita ke Batu kala itu, ini karena wali kotanya pecinta taman, jadi lahan nganggur dikit aja pasti dibangun taman. Coba aja search taman di kota Malang – Batu bakal nemu banyak banget.

    Indah banget dan sebagai emak-emak langsung deh, kepincut. Waaahhh kalau saya tinggal di kota kayak begini nggak pusing nyari tempat momong bocah. Jadi langsung kepikiran punya anak banyak deh. Nah loooh!

    Alun-alun di kota Batu itu kece banget, katanya alun-alun Malang juga bagus tapi kita nggak sempet kesana waktu itu. Ini alun-alun nggak seperti di kota lain, alun-alun identik dengan tanah lapang dan pohon beringin. Disini itu bener-bener taman buat mainan lengkap dengan playground tempat anak buat main perosotan, trampolin, ayunan dkk. Ini nyenengin banget, mau deh tiap hari kesini.

    Museum Angkut, bikin Sulthon Girang bukan Kepalang!

    Namanya museum ya, bagi sebagian orang ini pasti enggak menarik. Identik dengan barang kuno. Eh ini bedaaaaaa! Ini museum ampun deh kece banget, bagi para pecinta wisata selfie pasti bakal puas, disetiap sudut itu instagramable bangeeet!

    Koleksi museum angkut dari namanya juga kelihatan ya? Alat transportasi, yang bisa mengangkut kesuatu dari suatu tempat ke tempat lain. Hahaha nggak pakai dijelasin lengkap orang juga pasti tahu!

    Bukan cuma alat angkut yang ada di Indonesia ini loh, dari seluruh dunia! Dan yang bikin Sulthon girang dimana lagi kalau enggak dibagian bis dan keret. Ini pas dibagian Inggris atau Amerika ya lupa saya, yang ada naik kereta keliling ruangan. Harusnya dapat gratis sekali, Sulthon sampai 4 kali, sampai malu sama penjaganya. Yaaahhh Sulthon udah dijelasin tetep enggak mau tahu. Ya wisss lah! Yang penting seneng, puasss!

    Batu Secret Zoo, Kereeeen!

    Nah ini loohhh kebun binatang yang bisa banget muasin anak dan emaknya. Koleksi satwanya lengkap dan tempatnya bersiiiih. 

    Beneran ini recomended banget bagi yang mau family holiday. Yang sayang dan mau nyenengin anak, ini tempatnya. Mau lihat segala jenis monyet, segala jenis ikan, reptil, macan ada lengkap. Bahkan ada replika savanah, kita bisa lihat zebra dan bison pasa playon dikandang.

    Sulthon happy banget pastinya laaah, emaknya juga, onti-ontinya yang cantik jugaaa. Itu ontinya Sulthon sepanjang jalan narsis melulu, selfie tiada henti pokoknya, puas puas puassss, iya kan? Hahaha.

    Malang itu Nyebelin

    Kalian tahu kenapa nyebelin? Saya belum puas tapi harus lekas kembali pulang. Itu kan nyebelin. Bangeeet. Masih banyak lokasi wisata yang belum sempat dikunjungi. Hikks. 

    Kayaknya mesti nyari temen orang Malang gitu biar bisa modusin bisa jalan kesana lagi. Setidaknya bisa ngasih nginep dan makan gratis, hahaha. Dasar emak-emak!

    Semoga suatu hari nanti ada takdir membawa kami kembali jalan-jalan ke Malang lagi yak? Aamiin. 

    Baik-baikin yang punya takdir dulu dong yaaa… Terimaksih onti Mesha, kk Unyil dan Aruna Omahbuku. Okay, byeeee 
    πŸ’žπŸ’žπŸ’ž

    Sulthon Ngeblog

    πŸšπŸšπŸšπŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸšπŸšπŸšπŸšπŸšˆπŸšˆπŸšˆπŸšˆπŸšˆπŸšπŸšπŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸšπŸšπŸšπŸšžπŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸšžπŸš—πŸšπŸšπŸšˆπŸšŽπŸšŽπŸšπŸš—πŸš‚πŸš‚πŸšŠπŸšπŸšπŸš˜πŸš˜πŸš‘πŸš‘πŸšŠπŸšŠπŸš–πŸš–πŸšžπŸš”πŸš˜πŸš”πŸš”πŸš”πŸš”πŸš”πŸš”πŸš•πŸš•πŸš‡πŸš‡πŸšŽπŸš“πŸš“πŸš”πŸš”πŸš–πŸš–πŸš•πŸš—πŸš˜πŸš˜πŸš˜πŸš˜πŸš˜πŸšŠπŸšŠπŸšŠπŸšƒβ“‚πŸŠπŸŠπŸš‡πŸ‰πŸˆπŸˆπŸš†πŸš†πŸšπŸšπŸš’πŸš’πŸš“πŸš“πŸš“πŸšŒπŸšŒπŸš‹πŸš„πŸš„πŸš—πŸš—πŸΌπŸ²πŸΌπŸπŸŽ‚πŸŽ‚πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸŽ‚πŸš—πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸπŸπŸπŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸŽ‚πŸš—πŸš—πŸŽ‚πŸš—πŸš—πŸŽ‚πŸŽ‚πŸš—πŸš—πŸš—πŸπŸŽ‚πŸŽ‚πŸπŸ›πŸπŸŽ‚πŸš—πŸš—πŸŽ‚
    Hasil main pencet-pencet malem ini.

    Posted in Tak Berkategori.

    Tempat yang Nyaman untuk Momong Anak di Jogja

    Aiiihhh kangen Jogja. Ini udah hampir 2 bulan di Cilacap nih. Udah kangen dengan segala suasananya.

    Ngomongin Jogja sekarang buat saya sudah sangat berbeda. Kalau dulu mungkin dengan segala romantikanya. Kini, berhubung kemana pun ada Sulthon yang ditenteng turut serta, maka yang diomongin adalah tempat yang bisa bikin saya dan Sulthon bisa sama menikmatinya.

    Ketika Sulthon sudah mulai bisa berjalan dan saya sudah gatal bertualang maka pelan-pelan saya mulai mencoba untuk sesekali keluar. Memenuhi kebutuhan kita semua, Sulthon butuh mengenal dunia dan saya butuh pecicilan. 

    Saya biasakan tidak tergantung apa-apa harus sama suami. Tidak harus sama bukan berarti asal ngeluyur, tetap atas ijin dari suami. Kalau pas formasi lengkap bertiga ya ayo, tapi kalau suami tidak bisa ya kita berduaan.

    Tempat yang kita pilih juga yang paling aman dan mudah kita jangkau. Kalau lagi jalan berduaan juga saya selalu ngajak ontinya Sulthon yang kece nona Mesha untuk ketemuan. 

    Lokasi yang saya dan Mesha pilih adalah yang sama-sama bisa dituju dengan bantuan sopir bus transjogja. Maklum kita bis mania, dan Sulthon pun sangat girang kalau sudah ngomong bis, langsung nyanyi The wheels on the bus go round and round sambil tangannya di putar-putar.

    Kalau mau city tour, naik transjogja juga seru buat kita nih. Tapi atur waktu jangan pas musim libur. Jogja sekarang kalau liburan sudah mirip ibukota, macet dimana-mana. Dan pilih jalur bis yang armadanya masih baru, biar nyaman. 

    Taman Pintar / Shoping Buku 

    Ini tempat paling sering kita tuju. Baik dengan atau tanpa Abah Sulthon. sulthon sampai hafal dimana ada mainan drum, air mancur, ayunan atau tempat buat main hujan-hujanan.

    Tapi karena ini lokasinya di pusat keramaian maka tempat ini jadi tempat sejuta umat. Kalau lagi musim liburan ampuuun deh, nggak bakal bisa menikmati mainan.

    Kalau sudah puas mainan di taman, saatnya gelesotan tiba. Masuk ke pintu foodcourt makan, langsung cuss ke lapak buku langganan. Bisa pilih-pilih buku sepuasnya. Kadang dapat banyak kadang sedikit atau kadang cuma numpang baca doang.

    Museum Dirgantara


    Wawaaaattt wawaaaattt. Pas Sulthon diajak kesana langsung heboh lihat pesawat yang parkir di halaman museum.

    Tempat ini cocok lah buat momong, karena museum tentunya wisata ini memberikan banyak edukasi. Selain beberapa pesawat yang diparkir di luar masih ada banyak pesawat dan truk serta kendaraan perang lainnya di dalam. Oya, ini museum dikelola oleh TNI jadi koleksinya juga kendaraan perang.

    Awalnya siy Sulthon girang tapi giliran di dalam banyak patung dia mulai ketakutan. Maklum, ini anak satu phobia manekin. Bakal nangis dan meluk kenceng kalau jumpa manekin di toko tempat orang jual pakaian.

    Sampai diruang display kendaraan, reaksi pertama juga gitu, girang. Tapi pas ketemu pesawat yang digambar hiu menyeringai kambuh lagi. Ketakutan!
    Sementara, lokasi ini buat saya enak di halamannya. Bisa bersantai dibawah pohon sambil ngawasin Sulthon kesana kemari atau mainan di lorong pesawat yang parkir. Besok-besok kesini lagi kita ya Tooonggg…

    Ghratama Pustaka

    Baru sekali kesana dan kepengen secepatnya kesana dan kesana lagi. Lokasinya persis di samping sebelah timur JEC. Gedung baru, perpustakaannyaperpustakaannya Jogja yang super kece. 

    Ini tempat paling nyaman buat momong anak. Meski ini perpustakaan tapi ada tempat khusus yang diperuntukkan anak-anak. Tempatnya nyamaaaan bangeeeet. Mungkin karena sayanya yang demen buku, jadi bisa ngendon di perpustakaan itu sesuatu!

    Betapa hebohnya kami saat baru buka ruangan main anak. Ini perpust anaknya juga dibuatnya kece banget.  Tersedia beberapa ruang khusus, ada ruang main, ruang koleksi buku, ruang musik dan ruang dongeng.

    Setiap ruang sungguh nyaman buat gegoleran. Nyari tempat buat PW. Kemudian tenggelam bersama buku-buku.

    Khusus di ruang main anak, ini desain ruang unyu banget. Tapi, saya sangat sarankan untuk anak batita jangan biarkan main tanpa pengawasan. Meleng sedikit kepentok. Seperti Sulthon kemarin, kejedug sampai benjol di jidat sebesar kepalan.

    Sementara itu tempat yang buat saya merasa nyaman buat momong Sulthon. Gembiraloka zoo buat saya enggak rekomen, sekali kita pergi kesana. Capek muternya dan nggak sebanding dengan koleksi satwa yang dipunya.

    Sekian. Salaaam momong! 😊😊😊

    Posted in Tak Berkategori. Dengan kaitkata