Mereka yang membuatku tersenyum…

beeMenjadi seorang Pendidik sebetulnya bukanlah cita-cita kecilku. Perjalanan hidup yang membawaku bermuara disini. Dunia Pendidikan. Dan disini aku merasa nyaman, aku menyukainya.

Rasa syukur yang tiada tara selalu tercurah padaNya. Atas nikmat yang luar biasa ini. Beasiswa tugas belajar yang kudapat, merupakan rezeki yang patut disyukuri dan mungkin pantas sedikit berbangga dengan apa yang aku raih. Dan sekarang, ditahun terakhirku, InsyaAllah segera wisuda… doain aku yaa… Allah masih memberiku kenikmatan yang indah. Disela waktuku menyelesaikan TA, aku masih dipercaya mengajar ekskul dibeberapa sekolah TK dan SD. Alhamdulillah… Terima Kasih Allah 🙂

Membayangkan sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka, siswaku, teman-teman kecilku di kelas… sungguh menyedihkan… 😦 Mereka teman-teman kecil yang hebat dan lucu-lucu. Ada si Dzaky, namanya mirip keponakanku.. 🙂 Pertama kali aku masuk dikelasnya, kelas 0 besar, dia lari menghampiriku… “bunda… mau kenalan namaku dzaky”. Wooow… buat aku itu indah banget… 🙂

Ada lagi kisah Tristan si peneliti yang hebat, berusia 7 tahun kelas 1 SD. Anak itu pendiam. Bahkan sama teman sebangkunya pun jarang ada komunikasi. Waktu itu tiba-tiba ia menghampiriku menggandeng tanganku… “bunda ajarin aku…”. Jari-jari kecilnya mulai bergerak, berhitung mengerjakan soal-soal itu… Dia anak cerdas, mungkin termasuk golongan gifted. Aku semakin yakin dia istimewa, saat aku menemaninya, menunggu jemputan… anak itu berubah,  “komunikatif sekali” dia bercerita tentang dirinya dan keluarganya… cita-citanya menjadi astronot, dia bercerita tentang luar angkasa, tentang game yang jadi favoritnya. weeew… dia menguasai IT. Englihsnya juga jago. Hm… aku jadi berfikir, dalam diamnya dan adanya kesenjangan komunikasi dengan teman-temannya itu karena dia terlalu jauh meninggalkan teman-temannya. Ada kebiasaan yang layak untuk aku tiru… dia selalu membawa kertas dan alat tulis untuk mencatat semua hal baru yang dialaminya. Saat kutanya siapa yang mengajarinya? dia jawab… “aku menemukan ide itu sendiri” weeeew… (terpaku sejenak…kaguuuuuuuuuum, gilaaaa anak sekecil itu).

Kelasku tidak semua berjalan lancar, kelas yang kupegang disalah satu Madrasah. Hari pertama mengajar, di kelas 2. Kelas benar-benar tak terkendali… Ada yang berantem, ada yang menyanyi, ada yang main kejar-kejaran, selama 1 jam 5 anak menangis. Akupun terbengong-bengong. Pengalaman pertama yang takkan terlupa. Saat mulai bicara… ada yang maju kedepan memimpin doa mau pulang. Namanya Raka… (namanya familiar… mirip nama temenku, saat kejadian ini kuceritain, dia bilang nggak jauh beda dari masa kecilnya… 😛 ). Hari ini aku boleh kalah, tapi minggu depan aku bisa mengatasinya.

Aku punya strategi dipertemuan kedua, Raka kupanggil, hari ini bunda minta tolong… anak-anak yang nggak mau nurut dicatat nanti kasih bunda. Dan berhasil… walaupun belum stabil 100% tapi lumayan. Dan sekarang hampir semua anak-anak itu dekat denganku. Bukan hanya untuk soal pelajaran, kadang mereka bercerita tentang keluarga, teman dsb. Menarik… sangat menyenangkan mendengar curhat mereka 🙂

Lalu kisah si Rifki, anak TK didekat kampus UGM… badannya gemuk, putih, dan selalu terlihat rapi dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Terlihat bersahaja. Teman-temannya memanggil dia dengan sebutan boss. Segala keperluannya disiapkan teman-temannya. Ternyata anak-anak pun mampu melihat jiwa kepemimpinan dalam diri teman lainnya. hehehe…

Dan hari ini, kutemukan surat cinta di kelas 2 SD. (kaget dan geleng-geleng kepala… anak kelas 2 SD…. 😮 ). Bukan orang yang sama dengan Raka di madrasah itu.  Hanya namanya yang sama… Raka. (weeeew tepuk jidat). Ekspresinya…wooow saat kupergoki dia baca tulisan dikertas itu. Teman sebangkunya bilang habis surat-suratan sama pacarnya. Bukan surat panjang, tapi mereka berkomunikasi lewat kertas… saling bertanya dan menjawab. “kamu ingin mati nggak? Jawab: nggak aku nggak ingin mati. Apa kamu ingin mati? Jawab:Aku ingin ketemu nenekku, karena nenek sudah meninggal. Jawab: jangan kamu jangan ingin mati. Aku suka melihatmu sahabat sejatiku. Kalau kamu mati aku bisa buta warna, aku nggak mau kamu mati“. Sedikit dialog mereka dikertas itu. Perlu penanganan serius, karena mereka belum memahami konsep kematian. Huuuuffft… anak-anak.

Khusus untuk anak-anak yang pandai dan antusias dikelas Qosam, Surya, Harris, Fadhillah, Anindya… bunda bangga sama kalian. Dan untuk semua teman-teman kecilku terima kasih… bunda sayang kalian semua. 🙂

Iklan

8 thoughts on “Mereka yang membuatku tersenyum…

  1. hmm……
    ada2 sajah mereka itu…
    tapi itulah yang bikin bangga…bisa mengenal anak2 seperti mereka…
    ada2 sajah mereka itu…
    bikin kita tidak bisa menahan tawa didepan mereka…

    ~nulis sambil guling2 depan kompi~ (jika kamu mati aku jadi buta warna)

  2. @archantique:

    “hmm…pall in lope….tuink2…;;)”
    sama Tristan… hahaha… aduuuuuuuuuuuhh anaknya lucu bangeeeeeet…
    anty paling tau, anak itu cuman mau cerita banyak sama aku…weeeeeeks…
    itu tandanya dia juga sayang sama aku… 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s