Sekolah Canting Menyambut Puasa [fiksi banget]

Nulis cerpen iseng buat edisi Ramadhan untuk kawan-kawan Canting (Kompasianers Jogja). Ternyata banyak yang minat untuk ikutan dan jadi cerita keroyokan.

selengkapnya ada di “Balada Centingsari”

———————————————

Bel tanda pulang sekolah di SD Canting telah berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Besok adalah hari pertama bulan ramadhan. Sekolah diliburkan selama satu hari agar anak-anak bisa menjalankan ibadah puasa bersama keluarga dirumah. Mereka terlihat sangat gembira. Mereka dengan suka cita menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Tadi siang bapak Kepala Sekolah Yula memberikan pengumuman dan beberapa nasehat untuk anak-anak. Agar anak-anak dapat menjalankan ibadah di bulan puasa ini dengan baik. Tidak boleh iseng. Tidak boleh jahil. Dan nasehat yang paling penting adalah agar anak-anak yang akan ikut acara padusan tidak nakal. Anak laki-laki dilarang godain anak perempuan.

Berbeda dengan anak-anak lain, di ruang kelas masih terlihat beberapa anak laki-laki masih berkumpul. Mereka adalah beberapa anak yang terkenal bandel dan suka membuat keributan di sekolah. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu dengan serius.

Mereka adalah Gugun yang biasa dijadikan pemimpin oleh segerombolan anak-anak tersebut, selain itu ada Hendra, Sigit, Jenni dan yang badannya paling kecil adalah Ngashim. Mereka berlima suka bikin ribut di kelas. Sudah beberapa kali ditegur oleh guru namun mereka tetap saja bandel. Terutama Gugun, hampir tiap hari bu guru mengingatkan agar ia tidak menjadi anak yang nakal.

Benar saja, mereka sedang merencanakan sesuatu untuk nanti sore. Mereka tidak menghiraukan pengumuman Bapak Kepala Sekolah Yula tadi siang. Seperti tahun lalu, dalam acara padusan di sungai kampung banyak juga emak-emak yang sambil mencuci pakaian. Hal ini lah yang jadi objek keisengan mereka, mereka suka menghanyutkan cucian atau membuat air yang mengalir menjadi keruh. Selain itu mereka juga tetap semangat untuk menggoda anak-anak gadis. Terutama Jenni dan Hendra.

“Kalian sedang membicarakan apa anak-anak? Kenapa belum pulang?” Tanya Bu Gendis penuh selidik. Melihat anak-anak tersebut masih asyik berbincang bu Gendis segera masuk ke dalam kelas. Bu Gendis agak curiga terhadap Gugun dan kawan-kawannya. Pasti anak-anak merencanakan sesuatu pikirnya.

“Eh, bukan apa-apa Bu.” Jawab Gugun agak kaget. Teman-temannya juga kaget. Mereka khawatir kalau bu Gendis mendengar pembicaraan mereka barusan.

“Kami sedang membicarakan akan pergi ke masjid bersama nanti malam Bu.” Lanjutnya.

“Kalau begitu ya sudah kalian segera pulang. Ingatlah, kalian tidak boleh nakal. Apalagi ini memasuki bulan yang penuh berkah dan ampunan ini.”

“Kalau kamu ketahuan bohong Gugun, ibu tidak segan-segan potong rambutmu”

“Kamu juga Hendra, ibu bakal cabut gigi cakilmu! Untuk yang lainnya juga, ibu akan hukum kalian semua” Kata bu Gendis mengingatkan anak-anak.

“Iya Bu.” Jawab mereka berlima sambil keluar kelas. Dalam hatinya mereka saling meng-grundel “bu Gendis galak bin sadis”

[Bersambung]

By Lina Sophy


*) Hanya fiksi dan iseng, semoga para pelaku tidak mendendam…


http://www.kompasiana.com/linatussophy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s