Dongeng Ustadz Mumu

Para pandawa hari ini tampak berbeda. Mereka berangkat ke sekolah mengenakan pakaian muslim. Khusus hari ini pak Kepsek memprogramkan pesantren kilat di SD Canting. Anak-anak akan belajar  mengaji, belajar sholat dan mendengarkan ceramah keagamaan.

Bukan hanya murid-murid yang mengenakan pakaian muslim. Para guru juga tidak ketinggalan. Pak Kepsek Yula yang biasanya pamer rambut berdirinya dengan bangga, hari ini harus rela berpeci. Babeh Helmi yang sering memakai baju serba hitam pun hari ini rela mengganti dengan baju koko putihnya. Begitu juga pak guru bahasa jurusan pedalangan pak Bambang, blangkon bututnya mesti rela dilepaskan.

Setelah mengikuti serangkaian kegiatan dari belajar ngaji, belajar berwudhu dan belajar sholat anak-anak diberi waktu untuk istirahat sebelum acara ceramah keagamaan. Anak-anak  tetap beristirahat di dalam kelas. Para pandawa asyik sholawatan sambil glotekan mukul meja mempraktekan musik rabanda ajaran pak guru Mike kemarin. Sedangkan Unyil dan Ika asyik bercerita dengan anak baru di kelas si Jatmiko.

“Assalaumu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh anak-anak” terdengar suara dari luar kelas.

“Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh” jawab anak-anak namun masih dengan kesibukannya masing-masing.

“weladalah… ustadz Mumu. Mau ngapain ke sekolah tadz? Mau ikut mendengarkan ceramah ya?” kata Gugun begitu melihat ternyata ustadz Mumu yang datang.

“Mesti buat nyari bahan kultum buat nanti malam ya Tadz?” kata Hendra.

“Gundulmu… Ustadz kesini itu di minta pak Yula buat ngisi ceramah untuk kelas kalian” Jawab ustadz Mumu.

“Ya ampun tadz… di masjid tiap hari dengerin ustadz ceramah, kalau ketemu dijalan ustadz juga ceramahin kita, masa sekarang juga mau ceramah di sekolah. Apa nggak bosen Tadz?” Ngashim tak mau kalah.

“Bener kuwi… opo ora bosen jan-jane to tadz?” tambah Jenni.

“Jan-jane aku yo bosen banget ketemu bocah-bocah mbeling koyo kowe kabeh, dikandani tetep wae mbeling” Jawab Ustadz sewot.

“Wis saiki ngene wae, ustadz nggak bakal ceramah tapi mau ndongeng buat kalian” Lanjut Ustadz mumu.

“Horeeeeeeeee…” Jawab anak-anak senang karena baginya dongeng lebih menyenangkan dari pada mendengarkan ceramah.

Mendadak anak-anak berubah jadi anak-anak yang manis. Duduk diam ditempatnya masing-masing. Tampak serius menunggu dongeng dari ustadz mumu.

“sak wijineng ndino” begitu kalimat pembuka dongeng ustadz Mumu. Kemuadian ia mengisahkan tentang dua keluarga yang hidup bertetangga. Pak Rohman dan pak Wir, rumah mereka bersebelahan namun sifat mereka sungguh berbeda. Keluarga pak Rohman walaupun sederhana tapi penuh kasih terhadap sesama dan taat beragama. Sedangkan pak Wir orangnya sombong dan angkuh terhadap tetangga karena merasa lebih kaya dan terhormat.

Suatu ketika, datanglah seorang pengemis tua yang sedang kelaparan. Pengemis itu mengetuk rumah pak Wir. Namun bukan mendapatkan sedikit makanan tapi malah omelan dari pak Wir. “Enak saja mengemis, saya susah-susah bekerja kamu mau minta seenaknya. Nggak ada, pergi saja cari ditempat lain” katanya sambil membentak dan mengusir pengemis itu.

Pengemis itu pergi dengan sedih. Lalu kemudian mendatangi rumah disebelahnya. Rumah pak Rohman.

Asslamu’alaikum” Kata pengemis itu sambil mengetuk pintu rumah Pak Rohman.

“wa’alaikumsalam” Jawab pak Rohman.

“Pak, bolehkah saya meminta sedikit makanan. Saya lapar dan sudah dua hari belum makan” kata pengemis tersebut pada pak Rohman.

“Dirumah saya cuma ada ubi dan singkong. Kalau bapak mau nanti saya kasih” kata pak Rohman.

Akhirnya pengemis tersebut mendapatkan makanan dari rumah pak Rohman walaupun cuma ubi dan singkong. Sepeninggal pengemis itu, kampung mereka terjadi bencana yang hebat. Hujan besar serta petir menyambar-nyambar menakutkan.

Pak Wir sangat ketakutan, rumahnya hampir roboh sehingga ia lari keluar untuk menyelamatkan diri. Namun naas saat diluar petir menyambarnya. Sedangkan pak Rohman pasrah dan berdoa minta pertolongan dari Allah meminta keselamatan. Saat petir hampir menyambarnya tiba-tiba muncul ubi dan singkong yang diberikan pada pengemis itu menghalangi sambaran petir.

Begitulah anak-anak, bahwa sedekah walaupun kecil bisa bermanfaat untuk menghindari mara bahaya. Contohnya pak Rohman yang member sedikit makanan bisa selamat dari bencana. Ustadz Mumu mengakhiri dongengnya.

Anak-anak terpesona mendengarkan dongeng Ustadz Mumu. Gugun, hendra, jenni dan Sigit masih melongo entah karena terkesan atau tak mengerti dongengnya ustadz Mumu.

Grooookkk… Groooookkk…

“Ngashiiiiiiiim” teriak ustadz Mumu membangunkan tidurnya.

“iya maaaaak” Jawabnya gelagapan.

“weladalah iki bocah, didongengi malah enak turu, mak? emangnya aku iki emak mu” Kata ustadz Mumu disertai tawa anak-anak lain.

[Bersambung]

*) Baca Juga kisah lainnya di “Balada Chentingsari”

Para Pandawa (doc. Canting)

Para Pandawa (doc. Canting)

NB. Dongengnya garing banget wakakak…

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s