Mudik

Bulan Ramadhan memasuki 10 hari terakhir. Kesibukan warga Chentingsari mulai terlihat menyambut hari raya. Ibu-ibu rumah tangga mulai menyiapkan kue-kue khas lebaran. Anak-anak sudah merengek minta baju baru. Tapi semoga ibadah warga tetap terjaga dan lebih khusuk mendekati berakhirnya Ramadhan.

Kesibukan juga terlihat di markas ustadz Mumu. Baju-baju semua dimasukan dalam koper. Ia juga tak lupa membelikan oleh-oleh untuk orang-orang yang dirindukan dikampung halamannya. Tentu saja anak dan istri tetangganya. Maklum saja Ustadz mumu rindu menikah. Untuk itu mari kita doakan saja semoga Allah kasih kemudahan. Didekatkan dengan jodohnya. Semoga dapat pendamping yang cantik dan sholehah. Amin.

“Assalamu’alaikum Tadz”

“Wa’alaikumsalam anak-anak” Ustadz Mumu menjawab sapaan salam anak-anak. Ternyata Genk Pandawa, Unyil, Ika dan teman baru mereka si Jatmiko.

“Tadz… Maafkan segala kesalahan kami ya, hiks…” Unyil menangis tersedu-sedu. Maklum dia sudah dianggap seperti anak angkat oleh ustadz Mumu.

“Wealah Nyil, ojo nangis to… aku njur dadi melu sedih” Kata Jenni.

“Lagian nanti Ustadz Mumu juga balik kesini lagi ya Tadz” Lanjut Gugun.

“Wes to… ora pareng sedih, ora pareng ribut. Kalian datang kesini podo guyub aku wis seneng tenan. Pada mau bantuin ustadz packing barang-barang kan?” Ustadz Mumu menenangkan anak-anak.

Mereka bersemangat membantu ustadz mumu berbenah. Rencana sore ini juga Ustadz mumu pulang ke kampung halamannya di Lampung. Anak-anak akan mengantar sampai ke terminal.

“Tadz…  saya sedang gelisah nih tadz” Ngashim berbisik pada ustadz Mumu disela-sela waktu berbenah.

“Ono opo to Shim? Kok tumben koe iki gelisah? Opo goro-goro wingi melu talkshow Pak Beye dan Istananya, katanya mas Inu membagikan gelisahnya terhadap pemerintah sekarang.”

“Wealah… udu Tadz. Ini nggak ono hubungane karo pak Beye. Ini soal markas Ustadz ini. Engko nek  ustadz Mumu mudik, njur sopo sing dadi ustadz, gitu lho Tadz? Opo mau ikutan Ustadz got talent koyo acara neng SD wingi kae?”

“hm… walaupun kamu kecil dan sering tertindas tapi jan-jane kamu yo Mandan cerdas yo Shim. Tenang wae soal kuwi. Ustadz sudah rembugan sama warga, nanti yang bakal jadi imam bakal giliran tiap warga bagi yang mampu. Begitu Shim” ustadz Mumu menjelaskan.

***

Sore itu anak-anak semua tampak sedih mengantar kepulangan ustadz Mumu.  Ustadz Mumu sebetulnya juga merasakan kesedihan yang sama. Ia sedih meninggalkan anak-anak, walaupun kadang kelakuan mereka membuat ustadz Mumu puyeng tapi dalam hati kecilnya ustadz Mumu sangat menyayangi mereka.

“Anak-anak semua… pesan Ustadz, kalian jangan nakal ya! Bulan Ramadhan sudah mau berakhir, isi waktu kalian dengan ibadah agar hari raya besok kalian semua memperoleh kemenangan. Libur dulu jahilnya, mbelingnya, nakalnya, isengnya. Okay?” Pesan Ustadz Mumu pada anak-anak.

“Iya Tadz… hati-hati dijalan. Jangan lupain kita ya” Kata anak Hendra sambil cium tangan pak Ustadz.

Dan pak ustadzpun masuk kedalam bis yang akan mengantarkannya ke kampung halaman. Ia memandang wajah anak-anak yang mengantarkannya. Melambaikan tangannya dan berbisik “aku akan merindukan kalian”

[Bersambung]

*) Baca juga kisah lainnya di “Balada Chentingsari”

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s