Alasan Tidak Berpuasa

Pagi ini Unyil tampak malas-malasan. Mungkin masih merasa kehilangan Ustadz Mumu yang sudah mudik lebaran kemarin sore. Terang saja dia merasa kehilangan karena Ustadz Mumu lah yang selalu baik padanya. Membela Unyil saat dijahilin gank Pandawa.

“Mah… puasane masih berapa kali lagi sih?” tanya Unyil sama mamanya bu guru Maesharoh.

“ Sembilan hari lagi, ini udah masuk hari ke 21, nengopo to? Kok lemes ngono kowe?”

“Berarti Ustadz Mumu masih lama datangnya doooong” Jawab Unyil makin tidak bersemangat.

“Wealah jan-jane kowe anake sopo to? Kok sing dikangeni Ustadz Mumu. Wis gagean siap-siap sekolah ayo mama iki udah siap lho”

Unyilpun segera bersiap segera mandi. Saat berganti pakaian, ia sayup-sayup mendengar papa Rullah sedang berbincang dengan seseorang di telephon. Karena Unyil mendengar ada kata-kata “Ustadz” disebut-sebut oleh papanya, ia pun penasaran dan mencoba menguping pembicaraan papa Rullah.

“Wah jadi hari ini ustadz nggak puasa nih?” Kata Papa Rullah.

Unyil kaget bukan kepalang. Tidak ada alasan seorang muslim tidak puasa di bulan Ramadhan. Apalagi untuk seorang Ustadz.  “Apaaaaa??? Ustadz Mumu tidak puasa??? Kok bisa begitu, aku tak boleh tinggal diam” Unyil membatin.

***

Di kelas saat ki dalang menyampaikan pelajaran Bahasa jurusan pedalangan Unyil tampak gelisah. Tak seperti biasanya dia paling semangat mengikuti pelajaran soal tokoh-tokoh wayang bersaing dengan hendra. Mereka akan saling bersaing mengunggul-unggulkan tokoh idola masing-masing.

“Unyil nengopo yo, dino iki kok ora semangat? Kayaknya dia nggak sahur lagi hari ini deh. Habis itu bu Mesharoh ngawasin dia, ora ulih sarapan” kata Hendra pada Gugun yang merasa saingan terberatnya di bidang pedalangan dan perwayangan tampak loyo.

“iya tuh, sepertinya Unyil ora sahur” Kata Gugun.

“Nek mukanya ngono aku dadi ora tego nek arep jahil” Sigit ikut menambahi.

Unyil yang merasa sedang dirasani gank Pandawa kemudian segera bangkit. Ia berjalan menuju kearah meja Gugun. Gank Pandawa bersiap, memamerkan otot karena mengira Unyil bakal ngajak mereka beranten.

“Santai boy, hari ini sepertinya kita harus genjatan senjata dulu deh” Kata Unyil.

“Weladalah, kesambet po piye to koe nyil? Nggak ada genjatan senjata” Ngashim menjawab kata-kata Unyil, tangannya dikepalkan siap untuk melawan.

“Sabar nengopo to koe Shim, ini darurat. Kita harus bersatu menyelesaikan permasalahan ini. Butuh kerjasama” Unyil mencoba menenangkan Ngashim yang tidak sabaran.

“Iyo Shim, sabar ndipit. Kasih kesempatan Unyil ngomong dulu dong” Kata Jenni sok bijak.

Akhirnya Unyil menceritakan hal membuatnya gundah gulana. Percakapan yang ia dengar antara papanya dengan Ustadz Mumu tadi pagi bahwa Ustadz Mumu tidak puasa. Genk Pandawa mendengarkan dengan seksama cerita Unyil.

“Kalau Ustadz Mumu sebagai panutan kita aja nggak puasa, berarti hari ini kita juga nggak usah puasa” Kata Ngashim setelah cerita Unyil selesai.

“Nek ngono mari kita ke tempat mbok Bon, aku yang traktir” Gugun yang memang paling banyak duitnya dari hasil puasa bayaran mengajak kawan-kawannya ketempat mbok Bon.

Akhirnya mereka semua keluar kelas menuju warung mbok Bon. Namun saat melewati ruang kepala sekolah, tampak Pak Yula, Babeh Helmi, Bu Ketan dan Bu Gendis sedang berdiskusi. Begitu melihat rombongan anak-anak lewat, Bu Gendis segera menghentikan mereka.

“Eh… iki arep neng endi rombongan”

“Nganu Bu Gendis, kita mau buka puasa diwarung mbok Bon” jawab Hendra menerangkan.

Apaaaaaaaaaaaa???” serentak Pak kepsek, Babeh Helmi, Bu Gendis dan Bu ketan kaget mendengar jawaban Hendra.

Kemudian anak-anak akhirnya menjelaskan alasan mereka kenapa mereka akan berbuka puasa. Babeh Helmi mencoba menjelaskan tentang orang-orang yang diperkenankan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan pada anak-anak itu. Akan tetapi anak-anak tersebut tidak ada yang percaya dengan jawaban babeh helmi, karena bagi anak-anak yang boleh menjelaskan agama hanya ustadz Mumu.

Akhirnya setelah bersitegang antara pihak jajaran guru dan anak-anak diputuskan jalan satu-satunya adalah dengan menelphon ustadz Mumu.

“Dengarkan anak-anak, Allah  telah memberikan keringanan kepada orang yang sakit, orang yang sedang melakukan perjalanan (musafir), orang yang sudah tua, wanita haidh, wanita yang sedang nifas, wanita hamil, wanita menyusui, dan lain-lain. Mereka itulah orang-orang yang boleh untuk tidak berpuasa dengan sengaja pada siang hari di bulan Ramadhan. Bahkan di antara mereka ada yang harus berbuka dan diharamkan baginya berpuasa, seperti wanita yang sedang haidh dan wanita yang sedang menjalani masa nifas. Ditambah lagi dengan orang yang makan dan minum karena lupa pada saat sedang berpuasa dan juga yang lainnya. Dan Ustadz termasuk musafir, jadi boleh untuk tidak berpuasa” Ustadz Mumu menjelaskan panjang lebar tentang orang-orang yang diperkenankan tidak berpuasa pada anak-anak.

Setelah mendengarkan penjelasan dari ustadz Mumu, anak-anak segera meminta maaf pada Babeh dan lainnya yang tadi sempat tidak dipercaya penjelasannya.

“Yaaahhh.. ora sido buka nek ngene iki” celetuk Jenni.

[Bersambung]

*) Baca Juga kisah lainnya di “Balada Chentingsari”

Iklan

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s