Tak Butuh Ambisi untuk Berhasil

Sukino mendapat banyak pengetahuan yang dia anggap penting olehnya. Setelah mengikuti seminar itu, seminar yang membangkitkan semangat hidup, yang menanamkan ambisi dalam meraih keinginan, Sukino tampak bersemangat. Ia menceritakan apa-apa yang diperolehnya, menyebut beberapa istilah yang di rasa aneh bagi orang kampung seperti Ibu dan Bapaknya, kemudian ia minta pendapat Ibunya.

Sebelum menjawab, si Ibu mesem-mesem, mungkin karena tak ngerti benar apa yang dimaksud anaknya, Sukino.  Si Ibu malah balik nanya, ”ambisi itu apa, nak?”

Sukino tertawa kecil mendengar pertanyaan Ibunya. Kemudian ia menyebut satu nama, yang katanya sebagai motivator yang ngomong juga di acara seminar yang ia ikuti, dan kemudian lagi Sukino menjawab sesuai yang ia fahami. ”…Bu, ambisi itu hasrat yang sangat kuat, teramat sangat kuat untuk meraih apa yang diinginkan. Pokoknya gini, Bu, apa yang Ibu mau ya itu harus tercapai. Kalau Ibu ga punya ambisi, Ibu ga bakal sukses.”

 Si Ibu cuma nyebut ”o..”, entah tanda ngerti apa bingung. Tapi si Bapak yang dari tadi asyik dengan jalanya, nimrung dan menanggapi.

 ”Bapak bangga punya kamu, nak.  Nggak sia-sia Bapak dan Ibu kerja ini itu. Kamu akan sukses,  nak.”

Sukino senang dan bahagia, dan berbagangga diri, mendengar Bapaknya memuji. Ia merasa bahwa usaha belajarnya selama ini tidak sia-sia. Ia menyimak sungguh-sungguh semua omongan bapaknya, karena memang dia anak penurut juga. Ia tau kalau bapaknya belum kelar bicara. Makanya dia cuma mesem-mesem mendengar pujian dari Bapak.

”Bapak ini nggak sekolah. Pernah di SR (Sekolah Rakyat) dulu, nggak selesai. Apa lagi Ibu, mana tau sekolah itu seperti apa. Tapi alhamdulillah, Bapak dan Ibumu di beri kesanggupan untuk membesarkanmu. Tanpa ambisi yang kamu sebut tadi itu, alhamdulillah, Bapak dan Ibu dimudahkan membiayai kamu sampai sarjana. Sekarang, Bapak wariskan petuah Kakekmu. Waktu itu, Bapak mau pergi ke sawah. Lagi semangat-semangatnya Bapak ngurus sawah, sebelum subuh Bapak sudah siap pergi. Suatu sore, Kakek menegur Bapak, karena lebih dari seminggu Bapak lupa subuh. ”Nak, kamu ini  bagaimana, baru di kasih padi bagus  sudah lupa waktu. Belum tentu kamu makan hasilnya. Eling-eling, hati-hati dengan semangatmu itu, Nak. Bahaya itu. Bisa habis sebelum waktu. Inget-inget, Semangat itu bukan untuk dipacu, tapi untuk dipelihara. Bapak nggak bakal lupa nasehat itu. Alhamdulillah. Inget-inget, eling-eling, kamu kudu sanggup pelihara semangatmu. Biasa-biasa saja, nak.”

Suasana hening, tenang, damai. Mungkin karena sore ini tidak terlalu gerah, dan kembang ashar bermekaran seiring nyanyian senja. Kehidupan terasa sederhana, tanpa ‘terlalu’, ‘sangat’, ‘teramat’, ‘lebih’.

18 April 2011 parigimulya

By Gin

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s