Maka, Nikmati Saja!

Apa yang dapat diharapkan dengan mengenang kejadian-

kejadian bila nikmat kenikmatannya tidak ternikmati?

 Tak ada lagi yang dapat kuharapkan. Semua kuanggap selesai. Mungkin, sebaiknya aku diam saja. Tak peduli dengan apa yang terjadi disekitaran. “biarlah…”, tak ada rencana pun peristiwa akan ada. Hei “hidup selalu menyajikan kejutan-kejutan, lagi dan lagi.”

Dia sedikit mempersoalkan beberapa tanggapan atas kejadian yang membuatku terpuruk. “aku hampir tak percaya kau berpikir tak peduli. Aku ingin tau, benarkah sebab keterpurukanmu itu tak berarti?”

Pertanyaannya mengelitik bagiku. Dia tak harus bertanya begitu, kukira, dia lebih baik dariku. Tapi, “Aku juga penasaran. apa pentingnya menurutmu? Bukankah cukup penyesalan saja, dan sekarang tinggal bagaimana agar aku tidak menyesalinya? Kan, tidak keliru jika aku melupakan segalanya tentang ini?”

Dia tersnyum. Aku sempat kerutkan dahi ketika nunggu ocehan dia berikutnya. Dia menawarkan rokok dan teh hangat yang dia buat. Ia hisap kreteknya dalam-dalam, kemudian membudal asap dari mulutnya seiring bualannya, “Banyak benar yang kamu lupakan, sampai kau lupakan perasaanmu sendiri. Rupanya kau orang yang paling menderita pagi ini, sampai kau kecewa dengan sesal yang kini kau rasa.”

Aku terbahak. Dia terawa. Kami tertawa terbahak. Aku sulut kreteknya. Nikmat dengan teh hangat yang khas. “Teh ini khas darimu, kawan. Menikmatinya, nikmat juga. Rupnya bukan karena hangat dan gula, tapi nikmat karena aku menikmatinya.”

Kami berbincang hingga cerah pagi menjadi gerah hari. Katanya sebelum berpisah, “Kawan, beberapa hari ini aku betah duduk di warung remang di ujung selatan Kabupaten. Aku jadi tau benar kalau warung remang itu memang tempat transaksi birahi. Seorang siswi seusia putriku, menawarkan diri, dan aku menawarnya untuk ngobrol dan menikmati jalanan yang tidak terlalu ramai. Yang bikin aku kagum pada siswi lacur itu adalah nasehat genitnya. Pak, kenikmatan itu nikmat yang dinikmati. Ingat itu ya. Pak. Aku hampir tak peduli dengan sedih, marah, sasal, kecewa yang kini kau rasa. Karena sukar aku bayangkan jika kau tak mampu lagi merasakan itu.”

…kemudian kami tertawa…

 

27 April 2011 Parigimulya

By Gin Aksaraku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s