Kisah Dhia

(1) Cinta, Persahabatan, dan Penghianatan

Dhia tertegun, pikirannya melayang pada sosok yang beberapa tahun lalu pernah mengisi hari-harinya. “Karang, butuh banyak waktu untukku mengerti siapa dirimu sebenarnya” Ucapnya lirih. Ia menghela nafas panjang untuk mengurangi sedikit sesak yang menghimpit dadanya.

Dhia adalah sosok gadis kecil yang sederhana, ceria dan penuh mimpi. Teguh pada pendirian dan kadang keras kepala. Tapi ia juga sangat baik dan perhatian sama teman-temannya. Karena itulah ia mempunyai banyak sahabat yang menyayanginya.

Pagi itu, hari kamis yang ceria, matahari bersinar hangat. Dhia terlihat bahagia bercanda bersama sahabat-sahabatnya. Mereka tidak menyadari ada sepasang sorot mata tajam yang memperhatikan diujung sana.

”Hai, boleh gabung?” sapa sipemilik sorot mata tajam itu.

”Saya Karang” lanjutnya sopan dan bersahabat.

Sejak perkenalan itu, Karang terlihat semakin dekat dengan Dhia. Karang itu cerdas, selalu ada hal-hal baru yang Dhia dapat saat mereka berdiskusi. Mereka memang sama-sama suka bercerita. Bertukar fikiran, dan sifat karang yang periang membuat diskusi itu semakin asyik dan menyenangkan. Bersama angin mereka bercanda, hal terindah yang akan selalu mereka kenang.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, perasaan cinta tumbuh dihati keduanya. Pasangan yang serasi, itulah tanggapan sahabat-sahabatnya ketika Dhia mengiyakan Karang menjadi kekasihnya. Hari-hari merekapun menjadi penuh warna.

Karang tidak pernah berubah. Bahkan kebaikannya semakin dirasakan oleh Dhia. Karang adalah sosok yang baik, lembut, perhatian. Sempurnalah ia di mata Dhia. Seseorang yang bisa jadi kakak, sahabat, sekaligus kekasihnya.

Sayang sekali, kisah cinta Dhia tidak bertahan lama. Malam itu Karang datang dengan muka yang sedikit kusut. Bintang-bintang menjadi saksi bisu, saat Karang mengucapkan kata-kata itu. ”Dhia, kamu terlalu baik untukku, maaf hubungan kita sampai disini saja”. Ucap Karang lirih namun menggetarkan ketenangan hati Dhia. Dhia terdiam, cukup lama ia mencoba mengeja kata-kata Karang.

”Maksudnya kita?” kata-kata Dhia tertahan.

”Hubungan kita sampai disini, bukan karena aku tidak menyayangimu. Sungguh aku sayang sama kamu Dhia. Tapi kalau hubungan ini diteruskan aku takut akan menyakitimu. Kamu terlalu baik untukku”. Pelan Karang menjelaskan.

”Kenapa?” Dhia menatap Karang.

”Jangan pernah tanya kenapa? Karena aku tak akan pernah bisa menjawabnya. Aku sayang sama kamu Dhia.” Karang tertunduk.

”Aku tersingkir dan aku tercampakkan. Apa salahku? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?” Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengusik hati Dhia. Kesedihannya juga belum berhenti sampai disitu. Seminggu setelah itu ia mendapati Karang dengan perempuan lain. Tak jarang pula Dhia memergoki Karang tidur dengan perempuan itu. Dhia tidak percaya, Karang orang yang ia kenal adalah sosok manusia paling sopan yang pernah dikenalnya, karang tidak sebejat itu. Ini tidak mungkin terjadi, Karang tetap orang yang baik.

Dhia semakin larut dalam kesedihannya. Ia tidak percaya orang yang begitu dia banggakan berubah 180º. Bahkan setiap kali berpapasan dengannya, Karang selalu membuang muka. Entah apa yang terjadi dengannya. ”Aku perduli sama kamu, aku selalu sayang sama kamu Karang, apa yang terjadi?” tangis Dhia dalam hati.

Sahabat-sahabatnya terus berusaha menghibur kesedihan Dhia. ”Lupakan semuanya, lihatlah siapa Karang sebenarnya. Ia bukan sosok orang yang baik. Lihatlah kenyataan Dhia!” bujuk teman-temannya.

Waktupun berlalu, perlahan Dhia pun mampu menghapus kesedihannya, melanjutkan hidup untuk meraih mimpi-mimpinya. Namun sahabat-sahabatnya pun sangat mengerti, luka di hati Dhia masih ada. Beberapa kali Dhia mencoba membuka hati untuk orang lain namun selalu gagal.

”Entahlah, aku nggak mau menyakiti mereka, jika aku menjalaninya dengan setengah hati” jawaban itu yang selalu keluar dari Dhia.

”Kamu akan menyesal, tapi ingatlah bahwa kami masih disini untukmu Dhia, akan selalu mencoba menarikmu walaupun dengan paksa” balas sahabatnya penuh kasih sayang.

Entah mimpi apa Dhia semalam. Siang itu tanpa diduga datang kabar dari Karang. ”Aku telah menikah”. Bukan Dhia tidak menerima kabar itu, ia menerima itu dengan lapang dada, bahkan ia lega. Lega karena akhirnya dia bisa membangun komunikasi lagi dengan Karang, dan lebih dari itu ia begitu merasa lega seolah beban yang menghimpit selama ini bisa terlepaskan.

”Sudah saatnya aku membangun masa depanku sendiri” ucapnya dalam hati.

Sudah seharusnya memang Dhia berfikir untuk masa depannya. Akan tetapi jalannya belum semulus yang ia bayangkan. Banyak kejanggalan yang ia rasakan pada Karang. Entahlah tapi ini sedikit mengganggu dan membuat Dhia penasaran. Tapi seperti biasa Karang selalu misterius, rasa penasaran Dhia pun tidak pernah terjawab.

***

Dhia mempunyai sahabat baru. Namanya Mawar, cantik dan ceria. Ia selalu setia menemani, berbagi canda tawa. Dan satu hal Mawar begitu perhatian. Dan akhirnya Dhia pun percaya, sahabatnya ini adalah sahabat yang baik. Dhia mulai berbagi kisah, termasuk tentang Karang. Dan kepadanyalah Dhia berharap untuk menjawab rasa penasaran yang menghantuinya.

Penyelidikanpun dimulai. Mawar yang lincah bisa dengan cepat masuk dalam permainan ini. Hal yang paling membuat Dhia bahagia adalah perubahan Karang. Karang tidak sedingin yang dulu, bahkan mereka sepakat untuk menjadi sahabat, Karang, Dhia dan Mawar.

Dua minggu berlalu, hati Dhia menjadi lebih tenang. Namun sore itu tanpa pernah diduga sebelumnya, terjadi, perlahan dan tenang menghujam hati Dhia yang terdalam. Berawal dengan obrolan manis tentang si kuning cantik. Burung kenari peliharaan Karang.

“Dhia, bukankah kita sudah seperti saudara?” kata karang.

”Iyah…” jawab Dhia tenang.

”Aku tahu kamu itu begitu baik dan kamu orang yang bijaksana, aku menyukai Mawar Dhi, kamu bisa menyampaikan ini padanya?”

”What????apa aku tidak salah dengar? belum lama Karang, aku masih ingat dengan jelas, kamu bilang kamu telah menikah” Dhia kaget dan hampir tak percaya.

”Ceritanya begitu panjang, kalau kamu mau mendengarnya suatu saat aku ceritakan” jawab karang.

”Owh… nggak usah dijelaskan, karena itu mungkin juga tak berguna untukku, aku akan sampaikan ini pada Mawar” Balas Dhia.

***

Apalagi yang akan terjadi. Dhia menghela nafas panjang. ”Mungkin persahabatan kita terjadi diatur Tuhan, kamu diutus untuk mengantarkan seseorang untukku.” Jawaban Mawar yang sebetulnya membuat Dhia agak kaget.

”Mawar kau tahu, ini tidak mudah, karena kita bersahabat” kata Dhia pada Mawar.

”Jujur lagi aku bilang, aku membuka peluang untuk siapapun masuk dan mengenal aku, asal dengan cara yang baik dan dengan niatan yang baik, dan itu pula yang akan aku lakukan pada Karang. Tapi aku akan lebih senang ketika aku melakukan itu, Dhia kau sebagai orang yang megenalkan aku tidak bersedih” Jawab Mawar. Enteng.

”Tapi Karang suami orang?” Dhia mengingatkan.

”Aku kasih tau kesimpulannya aja. Karang belum beristri, maaf Dhia aku gak bisa cerita yah, Karang memintaku menjaga rahasia ini” Jawab Mawar.

”Bukankah itu jawaban yang seharusnya aku tahu? Kamu ingat inilah yang kita cari dari awal?” kata Dhia, agak kecewa ia mendengarnya. Agak jelas melihat siapa sebenarnya mereka. Bisa melihat siapa Mawar, seberapa kuat ia dengan komitmen awal terhadapnya, dan Karang pantaskah ia untuk dipikirkan?

***

”Kalian melangkahlah, ada hal yang ingin kukatakan, persahabatan kadang kala lebih menyakitkan dari pada permusuhan”

”Untuk Mawar jika memang aku diutus Tuhan untuk mengantarkan seseorang padamu, maka tugasku pun telah selesai”

”Dan kau Karang, aku lupa bahwa kadang kala jawaban tidak selalu dimulai dari pertanyaan, dan pertanyaan kadang kala tidak memerlukan jawaban. Butuh waktu tujuh tahun untuk mengerti siapa dirimu sebenarnya”

Dhia mengenakan ranselnya, ia bersiap melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti beberapa waktu. Sahabat-sahabat lama yang setia menemani menyambutnya dengan senyum mengembang dan meraih tangannya, bergandengan tangan menuju tempat yang harus mereka tempuh untuk sebuah masa depan.

(2) Kisah yang Terserak

Dhia merebahkan badannya, sejenak melepas lelahnya.   Walaupun terlihat lelah tapi kesedihan tak lagi menyelimuti wajahnya. Ia memejamkan mata, mungkin berusaha untuk terlelap sejenak. Namun ketika ia mulai setengah sadar, ia dikejutkan dengan suara panggilan masuk dari handphone-nya.

“Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu | aku ingin menjadi sesuatu yang bisa kau rindu | karena langkah merapuh tanpa dirimu | Ooooh karena hati tlah letih”

Suara once dengan lembut melantunkan dealovanya. Dhia terdiam, nada panggilan ini hanya untuk satu nomor. Nama seseorang yang pernah juga mengisi hatinya muncul dilayar handphone-nya itu. Arya. Walaupun dengan penuh ragu, Dhia menekan tombol berwarna hijau itu.

Dhia menarik nafas panjang. Menyandarkan kepalanya dipundak sahabatnya, terdiam lesu. ”Ada apa Dhi? Siapa yang menghubungimu?” sahabatnya bertanya.

”Arya, hanya menanyakan kabar, apakah aku baik-baik saja. Entahlah untuk apa lagi dia menghubungiku” Jawab Dhia tak bersemangat.

”Arya itu orang yang baik, dia masih perhatian. Tapi entah kenapa, sepertinya kamu membencinya?” Dhia terdiam mendengar kata-kata sahabatnya.

”Kasihan dia, coba kalau kamu yang berada diposisinya? Apa yang kamu rasakan?” lanjut sahabatnya. Dhia terdiam, matanya terasa begitu berat menahan butiran-butiran bening yang akhirnya jatuh dipipinya.

”Iya, kasihan dia…” lanjutnya lirih.

”Kamu ingat dengan kata-kataku dahulu, kamu akan menyesal. Tapi sudahlah, kamu harus melangkah, jalanmu masih panjang. Kamu sudah bertekad melupakan Karang. Untuk Arya, berbaiklah padanya dan yakinlah semua akan jadi lebih baik untuk semuanya.” Sahabat Dhia menasihati.

Dhia tersedu, kenangan setahun lalu terbayang jelas dalam benaknya.

”Dhi, tadi pagi aku jalan kekantor ada tulisan besar menghiasi baliho, tulisan yang sederhana tapi dalam sekali maknanya. Kamu mau tahu itu apa?” kata Arya.

”Waaaah, apa tuh Ya? Penasaran aku deh” Jawab Dhia manja.

”I Just Want To Say I Love You, Dhia” Arya mengeja kata-kata itu dengan jelas.

“I Just Want To Say I Love You. Nggak pake Dhia” balas Dhia.

”pokoknya I Just Want To Say I Love You Dhia, titik” Arya menatap Dhia.

 “Bagaimana?” lanjutnya.

“Bagaimana apanya?” Jawab Dhia polos.

“I Just Want To Say I Love You, Dhia. Mesti berapa kali aku harus mengulangnya?” Sorot mata Arya lebih tajam menatap Dhia.

”Kamu tahu, kata-kata itu hampir saja menumbuhkan bunga-bunga dalam taman hatiku.” Dhia menjawab pelan.

”Yang kuinginkan bukan hampir, tapi aku ingin membuat taman dihatimu penuh bunga” Arya menunduk.

***

”Maafkan aku. Aku sudah mencoba tapi nggak bisa Ya.” lirih Dhia menjelaskan.

”Tolong Ya, ngertiin hatiku kali ini. Persahabatan akan membuatku merasa lebih nyaman daripada hubungan kita yang sekarang.”

”Maafkan aku, Arya…” Dhia menitikan air mata.

”Karena cerita masa lalumu?” Arya manatap Dhia. Namun Dhia hanya bisa membisu.

“Teach me to understand your heart Dhia”

“Kamu nggak adil dengan dirimu sendiri, dan entah mengapa aku juga nggak bisa menahan tangisku. Kamu tahu hanya ada dua kata yang ada sekarang maupun nanti dalam kehidupanku.”

“Lagi, Sepi” Arya mengusap air mata yang sempat menetes dipipinya. Dhia hanya terdiam, menangis. Entah apa yang ditangisinya.

Persahabatan adalah pilihan terbaik menurut Dhia. Arya pun menerima keputusan yang diambil Dhia. Mereka saling menyayangi sebagai sahabat. Pernah Arya mencoba untuk meyakinkan hati Dhia tapi jawaban Dhia masih sama, ia tetap belum siap.

Hampir setahun kejadian itu berlalu. Suatu hari Dhia dikejutkan dengan sebuah undangan pernikahan. Nama Arya terukir jelas disana. Bahagiakah atau harus bersedihkah Dhia menerima kabar ini.

***

”Aku tidak benar-benar membencinya, aku hanya kecewa karena dia menyembunyikan semuanya dariku” Lalu apa yang mesti kulakukan padanya.

”Berbaiklah dan bersahabat dengannya, itu mungkin jalan yang terbaik. Arya orang yang baik, jadi aku pikir dia bisa bersahabat tulus denganmu, dan dia juga tidak akan mencoba menghianati istrinya.” Lanjut sahabatnya.

Buat Dhia inilah pelajaran yang paling berharga yang ia dapat. Satu hal yang ia tidak lupa dari nasihat sahabat setianya adalah ketika kamu mundur dengan satu alasan dari seorang pria, kamu harus punya jurus yang ampuh untuk menangkal akibatnya. Dhia harus terus melangkah berjuang menemukan masa depannya.

(3) Lalu, Biarlah Berlalu –The End–

Rentetan peristiwa ini terjadi dalam waktu yang begitu singkat. Perjuangan Dhia tak kemudah apa yang dibayangkan. Kesalahan dalam kurun waktu 7 tahun, menyisakan banyak kesedihan yang menyesakkan. Sedikit kecewa akan pernikahan Arya yang mengejutkan. Sebulan kemudian disusul peristiwa yang nggak kalah mengecewakan, Karang dan Mawar. Dan hari ini, apa yang terjadi pada Dhia. Sudah puaskah kisah-kisah tentang kesedihan menghampirinya? Belum kisah yang menyesakkan itu belum berhenti menyapanya.

Handphone dikantongnya bergetar, agak malas Dhia mengambilnya. Dilihatnya ada 1 pesan diterima.

Raditya, MT
Sender: Mas Radit

Dhia terpaku beberapa saat, sms yang begitu singkat, tapi bikin Dhia kaget.

 Mas baru selesai sidang dan mas lulus, ada waktu Dhi… mas pengen ketemu.
Sender: Mas Radit

Iya mas Raditya, MT… Dhia juga kangen sama mas…
Sender: Dhia

Ok, kasih tau kapan aja siapnya, ntar mas jemput.
Sender: Mas Radit

Selesai smsan Dhia termenung. Raditya, seseorang yang sempat dekat dengannya lima bulan lalu. Tapi saat Dhia memilih bahwa hubungannya dengan Radit hanya sebatas sahabat. Radit mulai menjauh, entahlah mungkin dia kecewa. Dan ketika Radit menjalin hubungan dengan perempuan lain, komunikasi dengan Dhia pun semakin jarang. Hanya sms sekedar menanyakan kabar dan itupun sangat jarang.

Kenapa mesti sekarang, disaat aku sedang bersedih. Ini hanya membuatku merasa semakin bodoh. Kenapa dulu menyia-nyiakan kesempatan. Mas Radit milik orang lain. Jika pertemuan itu terjadi apa yang akan aku dapat? Tidak ada bukan? Hanya kecewa.

 ”Tunjukan caranya aku untuk tidak bersedih. Melupakan luka ini dengan sekejap. Tunjukan caranya! Ajari aku melupakan semuanya!”

”Mungkin buatmu mudah. Sangat mudah. Tapi aku belum bisa…” Dhia berteriak.

Lari aku menghidari
Kepada keramaian
Kepada kegaduhan
Kepada kemegahan
Kepada kesuka-sukaan
Kepada kediaman
Kepada kedinginan
Kepada kesunyian

Lari aku kepada mereka
Teriak aku mencaci
Kepada kebodohan
Kepada ketololan
Kepada kekecewaan
Kepada kegetiran
Kepada keterasingan
Kepada kesepian
Kepada kekeliruan
Teriak aku kepada mereka

Sadarkan aku, Sesal
Hanya sombong yang menolak kamu datang
Kasihani aku, Sesal
Nasihati aku hingga tau tentang keliru
Ajari aku, Sesal
Agar diri menikmati kesempatan
Sesalkan aku, Sesal
Ingin aku fahami pengertian ini

***

Masa silam memang tampak seperti belukar, sukar dipilah bunga mana yang akan dipetik.  Akarnya saling bertaut dan batangnya menjulur saling menyatu. Melupakan masa silam hanya pekerjaan membodohkan diri. Lalu, biarlah berlalu.

Ada sedikit kabar tentang karang, bahwa ia terkena musibah. Salahkah Dhia jika saat mendengar kabar itu hanya mengangkat bahu. Lalu berujar. Alam berbicara, hubungan sebab akibat masih berlaku. Siapa menanam dia yang menuai. Diujung cerita ini Dhia berucap lirih tapi pasti… “Tuhan Ajari Aku Mencintai-Mu”

 –The End–

Kisah seperti ini mungkin sering terjadi disekitar kita. Hal penting yang harus Dhia ingat, dan pelajaran untuk saya juga bahwa hidup kita bukanlah suatu kumpulan dari pengalaman acak yang membawa kita bagaikan setangkai ranting yang hanyut di aliran sungai ketujuan yang tidak diketahui. Kita adalah bagian dari rencana yang jauh lebih besar.

Hidup itu seperti puzzle. Namun kadang kita begitu frustasi sehingga kita hanya mampu melihat satu pecahan dari teka-teki bergambar dalam hidup kita. Dan dipersimpangan jalan hidup, kita bertanya-tanya bagaimana pecahan yang berbentuk aneh ini bisa melengkapi teka-teki bergambar dalam hidup kita.

———————–

Yogyakarta, Januari 2010

(tulisan lama, cerbung dijadiin 1)

Iklan

2 thoughts on “Kisah Dhia

  1. kisah-Akyu
    Arj:sakit mas???
    bT:iya..
    Arj:gak usah jalan dulu,dirawat disini aja!
    dr:iya,dirawat disini dulu saja..kalo 2-3 hari gak sembuh bs diinfus disini.
    bT:TIDAK,saya harus jalan.”sudah banyak” yang menunggu disana.

    and the story begin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s