Sepenggal Kisah di Alun-Alun

Kemarin. Sengaja untuk menghabiskan sore menikmati hiruk pikuk alun-alun. Karena masih dalam bulan istimewa, maka istilah yang populer dipake adalah ngabuburit. Membunuh waktu menunggu Adzan maghrib berkumandang.

Sebelumnya, sempat mampir ke book store, m&c club. Seperti biasa, kalap melihat-lihat koleksi buku gramedia yang lumayan lengkap. Berharap, esok,  rejeki mengalir lancar agar bisa membeli buku sepuas hati. Amin.

Di bawah beringin besar. Di dekat pintu masuk masjid agung. Bersama tiga sahabat duduk manis menikmati sajian khas alun-alun. Di depan pintu kantor bupati, anak-anak sma, laki-laki dan perempuan, berbadan mirip taruna berbaris-baris. Calon pengibar bendera saat hari kemerdekaan tanggal 17 besok.

Di tengah lapang sisi kanan, beberapa remaja laki-laki berlari-lari. Menggiring bola plastik turut mewarnai ramainya sore itu. Seorang anak kecil bermain sendiri, membuat balon-balon udara dari cairan sabun berwarna merah. Tertawa senang, khas anak-anak.

puas =) (pic by sophy)
puas =) (pic by sophy)

Semakin sore, semakin ramai. Para pedagang kaki lima mulai berberes menyiapkan dagangan. Tukang somai, tukang mie ayam, tukang bakso, tukang jagung rebus, dan tukang-tukang jualan yang lain. Lengkap. Serba ada.

Seorang penjual balon sabun tanpa suara, menarik pembeli hanya dengan menerbangkan balon-balon sabun, terbang banyak, melimpah ruah. Ingin rasanya menangkap balon-balon itu. Mengingat masa kecil yang dengan suka cita membuat dan berusaha menangkapnya, meskipun saat tersentuh hilang, hampa.

Tanpa suara (pic by sophy)
Tanpa suara (pic by sophy)

Semakin mendekati maghrib, kawan baik saya membeli air mineral gelasan. Sekedar untuk membatalkan puasa. Dan tepat di belakang tempat kami duduk, penjual mie ayam menggelar tikar. Menaruh meja setinggi lutut dan menaruh botol-botol kecap dan sambal diatasnya. Seorang perempuan muda duduk memangku bayi bersia sekitar 1 tahunan. Tak berapa lama, Seorang lelaki muda menggandeng anak usia 4 tahunan menghampiri mereka. Memesan 3 mangkok mie ayam.

Suara Adzam berkumandang. Kami membatalkan puasa dengan segelas air mineral. Masih duduk ditempat masing-masing. Sayup-sayup, lelaki muda ini memimpin doa. “Allahumma laka shumtu wabika amantu wa’ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamarraahimin”. Saya berbisik pada kawan saya, ambil gambar keluarga ini. Dan tulis kisahnya menurut versi kita masing-masing.

si keluarga muda (pic by fhyfe)
si keluarga muda (pic by fhyfe)

Oke. Coba perhatikan. Tak perlu lah menduga-duga siapa mereka. Mereka hanya orang-orang yang sama-sama terperangkap sore kemarin di alun-alun. Bisa saja berpengaruh dan bisa saja tidak berpengaruh kehadirannya bagi orang lain. Namun, buat saya pribadi kehadirannya menarik.

Seandainya saja si bapak muda itu tidak memimpin doa, mungkin pun buat saya tak berarti. Kenapa menarik? Pertama, di lingkungan saya tinggal, meski dekat masjid dan sepertinya orang-orangnya agamis, namun banyak yang tidak puasa. Laki-laki, dari remaja sampai paruh baya seringkali kepergok makan di warung atau yang terang-terangan merokok dan ngopi. Mayoritas yang aktif puasa adalah anak-anak dan simbah-simbah. Fenomena ini mungkin terjadi dibanyak tempat, tapi tak perlulah saya bahas soal ini. Dan, si keluarga muda disini saya anggap mereka berpuasa.

Kedua, keluarga ini keluarga yang bahagia. Sekali lagi saya nggak akan menyangka-nyangka yang lain. Si bapak meski membawa keluarganya ke tempat sederhana dengan makanan sederhana pula tetap mengajak keluarga berbuka puasa di luar. Memberikan istri waktu cuti bergelut di dapur sore itu menyiapkan buka puasa. Dan mengajak anak-anaknya bermain, di sini, alun-alun, menyenangkan. Dan, kesederhanaan itu adahal hal yang menawan.

Ketiga, mengambil kata-kata sahabat baik saya di Subang sana bahwa “Kenikmatan adalah nikmat yang ternikmati”. Dan, keluarga ini sepertinya sangat menikmati sajian alun-alun sore kemarin. Sampai-sampai saya sendiri turut menikmati kehadiran mereka.

Keempat, harus jujur diakui keluarga muda ini membuat saya merasa iri. Entah dibagian mana saya merasa iri, yang pasti di banyak hal. Semoga, keluarga ini memang keluarga yang sangat bahagia, dan semoga lagi anak-anaknya kelak bisa membuat bangga dan bermanfaat hidupnya untuk sekitaran. Semoga.

Kota Kelahiran, Agustus 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s