Kepuasan Pelanggan Sebagai Modal Menuju KEA 2015

Salam Hangat! Semangat Menuju KEA 2015.

Asean Community
Asean Community – Sumber Gambar

Waktu seakan cepat berlalu. Dua tahun merupakan waktu yang sangat sempit menuju Komunitas Asean di Tahun 2015 nanti. Memang Issue Komunitas Asean bukanlah sebuah rencana yang baru saja dibuat.  Komunitas Asean pertama kali dicanangkan sejak 10 tahun yang lalu yaitu pada tahun 2003 di Bali. Saat itu para pemimpin negara Asean sepakat bahwa Komunitas Asean akan dimulai pada tahun 2020. Namun dengan semakin majunya informasi dan teknologi berbanding lurus juga dengan pesatnya pertumbuhan dan pembangunan. Untuk itulah pada tahun 2007, para pemimpin Asean sepakat untuk mempercepat realisasi Komunitas Asean dari tahun 2020 menjadi tahun 2015.

Pembangunan Komunitas Asean sendiri terdiri dari 3 pilar, yaitu Komunitas Keamanan Asean, Komunitas Ekonomi Asean (KEA), dan Komunitas Sosial-Budaya Asean. Berbicara mengenai 3 pilar tersebut meskipun semua penting, namun KEA merupakan pilar yang harus dipersiapkan lebih matang. Dalam seminar yang dilaksanakan di Jakarta tanggal 24 Agustus 2013 kemarin telah digambarkan secara jelas bahwa tujuan KEA 2015 yaitu menciptakan Asean sebagai pasar tunggal dan basis produksi ditandai dengan semakin meningkatnya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan perpindahan barang modal secara lebih bebas.

Untuk itulah kesiapan Indonesia harus benar-benar matang agar tidak kalah dalam bersaing dengan negara lain. Kita harus optimis bahwa modal Indonesia untuk mampu bersaing menghadapi KEA sangatlah besar. Wilayah yang luas, jumlah pasar yang besar, banyaknya UKM, dan memiliki banyak SDM yang memadai merupakan modal yang kita punya dan harus disiapkan sebaik mungkin menyongsong KEA 2015.

Persiapan menuju Komunitas Ekonomi Asean ini bukan saja tugas dari pemerintah. Pembangunan menuju Komunitas Asean ini haruslah didukung berbagai pihak lain sebagai pelaku ekonomi dan tentu saja dukungan masyarakat pada umumnya. Masyarakat harus betul-betul siap menerima era perdagangan bebas negara-negara Asean di tahun 2015 nanti.

Bagaimana mempersiapkan masyarakat Menuju KEA 2015.

Contoh Kasus.

Sri adalah seorang ibu rumah tangga yang baru saja memulai bisnis salon kecantikan dan rias pengantin dikampungnya. Rajin berlatih dan mengikuti kemauan pasar membuat usahanya makin maju. Bermodalkan keramahan dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik membuat pelanggan betah dan terus bertambah banyak.

Ketika KEA benar-benar terealisasi. Banyak pesaing bisnis seperti dirinya bermunculan. Tidak tanggung-tanggung pesaingnya bukan saja datang dari tetangga kampung atau pemilik modal dalam negeri melainkan dari negara-negara tetangga Asean lainnya seperti dari Thailand dan mungkin saja dari negara tetangga lainnya.

Apa yang harus Sri upayakan agar bisnisnya tetap mampu bersaing dengan pesaing-pesaing barunya tersebut?

Aha! saya sendiri kaget dengan contoh kasus yang saya buat diatas. Tapi dengan cara tersebut saya mungkin bisa sedikit menganalisis hal-hal yang mungkin saja akan terjadi jika KEA 2015 nanti benar-benar sudah terealisasi. Dan mungkin kasus-kasus seperti inilah yang memang benar-benar akan terjadi nanti.

Jika saya jadi seorang Sri, sebagai manusia tetap saja ada perasaan khawatir. Namun tidak lantas selalu merasa ketakutan menghadapinya, rasa khawatir harus diolah dengan bijak dan disertai usaha secara nyata sehingga melahirkan rasa optimis untuk tetap berkarya.

“Sesungguhnya, kepuasan pelanggan dianggap sebagai satu-satunya tujuan yang relevan untuk menjamin bisnis yang stabil dan meningkat secara terus-menerus” —- Giorgio Merli

Mengutip dari pendapat Giorgio Merli tersebut diatas, saya setuju bahwa kepuasan pelanggan mampu menjadi modal besar agar bisnis tetap berjalan dan berkembang, akan tetapi bukan satu-satunya hal yang menjamin, masih banyak lagi faktor yang perlu disiapkan agar bisnis lokal tidak tergeser oleh kompetitor dari luar.

Ngomongin kepuasan pelanggan, untuk kasus salon Sri memang sungguh penting.  Jika salon Sri itu tempatnya nyaman, pelayanan ramah dan bersahabat, hasilnya bagus saya sangat yakin tidak akan ditinggalkan. Saya sendiri sebagai seorang konsumen/pengguna jasa akan sangat senang dan nyaman apabila pelayanan yang kita terima memuaskan dan tidak akan mudah berganti tempat lain.

Seperti saya sebut diatas bahwa kepuasan pelanggan bukan satu-satunya jaminan maka masih banyak hal lain yang perlu dibenahi agar bisnis lokal tetap mampu bersaing dalam kancah KEA 2015. Perbaikan mutu dalam berbagai bidang perlu selalu ditingkatkan. Komitmen jangka panjang terhadap perubahan yang mungkin saja terjadi harus dipersiapkan, perbaikan sistem yang terus menerus, terbuka untuk melakukan banyak pendidikan pelatihan sangatlah penting bagi keberhasilan.

Selain dari pelaku bisnis sendiri dalam berbenah dan selalu melakukan perbaikan tentu saja dukungan dari luar sangatlah penting. Pemerintah dengan kebijakan-kebijakan yang sudah seharusnya dibuat untuk mendukung sepenuhnya kehidupan masyarakat. Memberikan perlindungan dan memberikan jaminan keamanan.

Dan dari masyarakat Indonesia secara umum, marilah kita cinta produk dalam negeri. Cinta sesama untuk kemajuan kita bersama. Banggalah menjadi bagian dari negara Indonesia tercinta ini. Jika cinta dan bangga menjadi bagian dari Indonesia ini sudah membudaya, tantangan menghadapi Komunitas Asean pasti dapat kita hadapi dengan optimis bahwa kita BISA!

—————

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog #10daysforASEAN Hari ke-1 dengan tema “Bagaimana kalau di sekitar perumahan kamu banyak berdiri salon-salon Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat internasional apakah akan menggeser salon lokal? Apa analisismu?

Lina Sophy | 26 Agustus 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s