Cintai dan Hargai Warisan Budaya Negeri Sendiri

Semangat Pagi!

Ensiklopedi Asean

Ensiklopedi Asean

Tema penulisan pada event #10daysforASEAN pada hari ke-2 ini sungguh sangat menarik, Borobudur dan Angkor Wat. Dari siang jadi heboh sendiri mencari pengetahuan tentang sejarah kedua candi ini. Dari searching google sampai bongkar-bongkar buku Ensiklopedi Asean. Jadi kebayang dalam waktu 10 hari ini berapa banyak pengetahuan yang bertambah, jadi benar adanya dengan kita menulis wawasan kita juga akan semakin luas, semoga.

Sebelum berbicara banyak mengenai candi ini, saya akan mengapresiasi para arsitek yang merancang bagunan megah yang menjadi warisan-warisan budaya dunia ini. Keren, hebat dan luar biasa. Lebih dari 1000 tahun yang lalu bangunan megah dan eksotis ini telah dibangun. Bukankah itu sangat luar biasa?

Borobudur (Indonesia) dan Angkor Wat (Kamboja).

Saya bersyukur bahwa lebih dari 5 kali saya mengunjungi Candi Borobudur. Candi Budha terbesar yang menjadi kebanggaan Indonesia. Candi yang dibangun pada abad ke-9 masa pemerintahan raja Samaratungga dari kerajaan Mataram Kuno keturunan wangsa Syailendra. Dalam kompleks candi ini terdapat 1460 relief dan 504 stupa Budha. Candi ini didirikan sebagai tempat ritual ibadah agama Budha yang pada saat itu memang baik Agama Budha maupun Agama Hindu sedang berkembang pesat sebelum Islam masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, selain Borobudur banyak didirikan pula candi-candi lain yang bercorak Budha atau Hindu.

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak yang terdiri dari 10 tingkat. Setiap tingkat memiliki relief-relief yang menceritakan berbagai kisah yang menggambarkan ajaran Agama Budha seperti kisah Ramayana maupun cerita menggambarkan kehidupan masyarakat kala itu. Penggambaran relief di Borobudur ini banyak menampilkan gambar manusia (bangsawan, rakyat jelata, maupun petapa), aneka tumbuhan dan aneka hewan.

Sedangkan Candi Angkor Wat di Kamboja, jujur saya sendiri belum pernah mengunjungi jadi mungkin saja penggambaran dalam analisis sederhana yang akan saya tuliskan kurang memadai. Namun dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa candi ini dibuat pada abad ke-12 dan dibangun oleh Raja Suryavarman II. Pada awalnya candi ini merupakan candi Hindu, dan kemudian dialihfungsikan menjadi tempat peribadatan Agama Budha.

Seperti juga candi-candi lain, Angkor Wat pun memiliki banyak relief pada dinding-dindingnya. Dan tentu saja relief yang digambarkan merupakan serangkaian kisah atau cerita yang menggambarkan ajaran Agama kala itu. Dari berbagai sumber pula bahwa relief-relief yang ada di Angkor Wat juga banyak menampilkan berbagai gambar manusia, tumbuhan dan hewan.

Banyak sumber mengatakan pula bahwa relief di kedua candi ini memiliki banyak kesamaan. Mungkin memang benar adanya bahwa akar budaya nenek moyang bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara memiliki banyak persamaan. Hal ini sebetulnya memang tidak aneh jika ditilik dari berbagai faktor. Letak geografis wilayah kita berada dekat dan dalam satu kawasan. Dan pengaruh agama yang berkembang pesat kala itu yaitu Hindu – Budha dan pasti memberikan corak yang mirip antar bangunan satu dengan lainnya. Dan saya yakin tidak hanya Borobudur dan Angkor Wat saja yang memiliki banyak kemiripan, kalau saja dipelajari lebih jauh akan ada lebih banyak kemiripan yang akan ditemukan pada candi-candi yang tersebar di nagara-negara Asean ini.

Berbekal dari kesamaan itulah dapat disimpulkan bahwa negara-negara di kawasan Asean merupakan rumpun yang sama. Untuk itulah kita wajib untuk saling menghormati. Dan melihat dari hasil karya peninggalan sejarah tersebut sudah sepantasnya kita berbangga bahwa nenek moyang kita merupakan masyarakat yang berbudaya. Hasil karya candi-candi dengan bermacam-macam kisah yang digambarkan melalui reliefnya itu merupakan warisan peninggalan sejarah yang sungguh sangat bernilai.

Ada yang berpendapat bahwa orang yang paham sejarah akan menjadikan orang tersebut menjadi lebih arif dan bijak. Oleh karena itu sepantasnya kita mampu menjaga warisan budaya dari nenek moyang kita. Dan untuk menyongsong Komunitas Asean di tahun 2015 nanti, hal ini menjadi sangat penting. Negara-negara lain memiliki peninggalan sejarah yang hampir ada kemiripan dengan kita. Agar negara kita siap bersaing dalam era kancah pasar bebas dengan negara-negara Asean lainnya sudah seharusnya kita berbenah. Cintai dan hargai budaya negeri sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi?

Semangat menuju Komunitas Asean 2015.

Narsis di Borobudur

Narsis di Borobudur

————————-

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog #10daysforASEAN Hari ke-2 dengan tema “Sudah pernah berwisata ke Candi Borobudur? Menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Candi Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal, Borobudur dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat ada.  Apakah ini menandakan bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun? Apa pendapatmu mengenai hal itu?

#NB : Dirangkum dari berbagai sumber.

Lina Sophy | 27 Agustus 2013

Iklan

2 thoughts on “Cintai dan Hargai Warisan Budaya Negeri Sendiri

  1. boro2 ke angkor wat, ke borobudur saja saya belum pernah. saya baru tahu angkot wat itu apa. kok hampir mirip borobudur ya angkor wat, ada relief dan bertingkat2 gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s