Abah Sulthon dan Bunda Sulthon

Ciyeeeehhh fotonya mesraaah ciyeeeehhhh.

Abah dan Bunda. Ini sebutan enggak matching banget yak? Ahaha. Kok nggak Abah dan Umi biar ke arab-araban gitu. Atau yang ke barat-baratan Daddy and Mommy. Atau yang paling familiar Papa dan Mama. Atau yang ke-Indonesia-an banget, Bapak dan Ibu atau yang lebih ngetrend lagi sekarang Ayah dan Bunda. Lah ini, satu kemana yang lain kemana? Ahahaha.

Ada beberapa teman yang sempet komplain juga nanyain, kok agak aneh ya? Lalu saya jawab enteng kan belom pantes saya disamain macam “umi pipik” gituuuu… Ahaha.

Abah.

Sejarahnya dulu begini. Kita bertemu memang berasal dari dunia yang berbeda. Bukan Abah itu manusia lalu saya ini jin dan sebaliknya. Maksudnya background kehidupan kita yang sangat jauh berbeda.

Abah dari kecil hidup di pondok, belasan tahun nyantri di beberapa pondok pesantren. Ini juga yang melandasi saya mendukung gerakan “ayo mondok” dan sedari sekarang sudah mulai mikir dan memantapkan hati dan rasa kapan sebaiknya Sulthon masuk pondok pesantren. Dan karena ini pula, kenapa Abah lebih nyaman “sarungan” kemana-mana, karena kebiasaan dari Abah kecil.

Suatu malam, ketika saya hamil sambil gegoleran cantik sebelum tidur biasanya kita sambil ngobrolin sesuatu. Termasuk rencana panggilan anak pada kita. Sepupu-sepupu Sulthon semua panggil Ayah Ibu, jadi saya ngusulin biar samaan aja.

Ayah? aku malu, nanti kalau ketemu teman-teman bagaimana? Mereka semua dipanggil Abah, aku sama semua orang tua panggil abah, masa sama anak sendiri dipanggil ayah. Suami saya protes. Ahahaha. Kenapa sih nggak mau jadi orang yang berbeda? Cuek saja kenapa yak.

Oke kami pun sepakat, besok bayi lahir suami dipanggil Abah. Lalu bagaimana dengan saya? Ahahaha, ngebayangin aja enggak untuk dipanggil umi. Emak petakilan gini mah belom pantes yak? Maka itu saya milih dipanggil, Ibu.

Bunda.

Nah ini yang aneh, sesuai kesepakatan kami bahwa panggilan anak ke saya itu Ibu. Dari brojol saya menyebut Ibu untuk Sulthon. Pas dia mulai bisa ngomong, kok panggilan ke saya terdengar aneh. Makin lama makin jelas, dia nyebut “Nda Ina”.

Ini diluar dugaan, dari mana ya dia manggil begitu. Ditelusuri, mungkin dari dalam perut dia sering dengar anak-anak kecil manggil saya begitu. Iya, dulu sempat ngajar di paud dekat rumah. Sampai sekarang bekas murid kalau jumpa masih kadang nyapa dengan manggil “bundaaaa”.

Abah dan Bunda

Dulu, sebelum menikah, ceritanya nostalgia sedikit lah yaaa. Saya suka dengerin dia bercerita, tanpa basa basi. Soalnya dia konyol, aneh. Tuh sampai temen mondoknya ngasih gelar ki Agung geblek. 

Dongeng ini itu. Bahas kitab ini itu. Pokoknya serba serbi kehidupan pesantren yang dialaminya. Takjub? Iyalah, ini menarik hal baru, karena saya nggak pernah ngalamin. Ya dari sini lah mungkin benih-benih cinta yang dia sebar itu mulai tumbuh dihatiku, ceilehhhhh macam abege aja ngomongin cecintaan syalala.

Masih ngomongin dulu, lagi cinta-cintanya saya mikirnya gini, wah kalau saya nikah sama si kang santri ini bakal seru nih. Saya bisa ngaji tiap waktu. Bisa jadi istri sholehah. Biar seimbang ilmu dari pendidikan formal yang saya pelajari.

Berjalan mulus enggak? Yang namanya sebuah hubungan pernikahan ya enggak selamanya mulus terus yak! Butuh lah yang namanya berantem. Alasannya kalau habis berantem, terus mesraaaa kayak perangko, berasa pengantin baru. Ehh pasangan lain kayak begitu enggak sih?! 

Suka dukanya nikah sama santri itu, emm banyak apanya yak? Kalau bilang banyak susahnya nanti dibilang orang lupa syukur, kalau banyak sukanya kayaknya saya masih suka ngeluh ini itu. Hah! Tapi sama saja lah ya, serba serbi hubungan pernikahan. 

Tapi karena perbedaan latarbelakang itu tadi, ada banyak kisah seru yang saya alami. Misal, saya bangga pernah ketemu dan salaman sama pak Jokowi, lalu dia cerita mending dia pernah mijetin kyai-kyai besar nggak cuma salam dan cium tangan, lebih barokah! *saya melongo*.

Ada lagi kisah ngaji maiyah sama cak Nun, saya cukup dengan duduk manis mendengarkan, baginya enggak, lari menerobos sampai bisa salam dan cium tangan. *melongo lagi* kayak begitu ya santri? Ahahaha.

Itu tadi kisah konyolnya, ada hal yang sampai sekarang masih kami perjuangkan ya menghilangkan ego masing-masing kita. Ini terjadi karena sama-sama merasa saling memiliki jadi berhak memaksakan ini itu pada yang lainnya. Iya enggak Abah Sulthon? Hehehe.

Btw, ini saya ngelantur apaaan sih? Ahahaha. Kok malah curcol geje beginih! Mohon dimaklumi, ini ceritanya malam pertama ditinggal ngaji sampai pagi sama abah Sulthon. Jadi saya berdua sama Sulthon dirumah kontrakan baru di kota kecil bernama Purbalingga. Bingung insomnia sendiri, dan ada hasrat kepengen nulis. Ya uwisss asal nulis saja.

Bagaimanapun keadaan kami, abah dan bunda semoga mampu mendidik Sulthon dengan sebaik-baiknya. Aamiin.
Salaaaaam 😊

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s