Besok Sulthon Ngaji di Pondok, Ya?!

Suatu hari, beberapa waktu lalu saya pergi ngaji numpang mobil teman abah Sulthon. Beliau ini terbilang pengusaha sukses di daerah Purbalingga. Sambil menikmati perjalanan pastinya ngobrol ini itu. Dan pastinya saya suka sambil menimba ilmu dari cerita-cerita macam begini. Berasa kuliah sama praktisi, gratis!

Ngobrolnya ngalor ngidul, dari perjuangan membangun bisnis dari 0 sampai bisa sukses seperti sekarang. Cerita saat membangun keluarga, pindah-pindah tempat ketika awal menikah, tentang pendidikannya yang hanya sampai sma, sampai cerita tentang mendidik anak.

Sebagai seorang mamah muda, ini perkara paling penting, sinyal kudu kuat untuk menyimak. Secara perlu banyak referensi bagaimana mencetak anak yang sukses dunia wal akhiroh. Iya toh?

Beliau bilang gini, “Dulu saya bangga sekali, anak-anak saya kuliah dan sekarang jadi sarjana. Gimana nggak bangga, saya ini orang nggak berpendidikan tinggi. Dua anak saya jadi sarjana, terharu”. Yah, bisa ngerasain juga apa yang beliau rasa.

Tapi itu dulu. Lain dulu lain sekarang. Beliau tak lagi bangga dengan semua gelar anak-anaknya. Kenapa? Beliau lanjut cerita, semua berubah ketika anak bontotnya masuk SMP dan minta masuk pondok pesantren. Ini bukan model sekolah boarding yang modern lho ya meski beliau pasti mampu membiayai, ini pondok pesantren tradisional yang ngajarin kitab kuning.

Pandangan tentang kehidupan jadi berubah. Katanya sih lebih ingat akhirat daripada sebelumnya. Jadi lebih rajin ikut pengajian, rajin ziaroh dan ritual keagamaan lainnya.

Seru sekali cerita beliau ini. Dan hal paling menarik dan menyentil hati saya itu cerita soal 3 perkara yang tidak terputus setelah kita meninggal. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh.

Beliau bilang soal 3 perkara itu tadi. Dari ketiganya mana yang bisa saya dapat? Ngandelin amal jariyah? Amal saya ini berapa? Iya kalau ketrima. Padahal setahu saya beliau ini sering sekali sedekah ini itu. Gleeeekkkk! Lah gimana saya?

Lanjuuut, untuk urusan yang kedua, ilmu yang bermanfaat. Saya ini bukan guru, bukan kyai. Ilmu apa yang bisa saya bagi, yang bisa saya harapkan sebagai penolong diakhirat nanti? Jleeebbbb. Kena lagi saya!

Nah yang ketiga ini penting nih. Doa anak yang sholeh. Paling ini yang bisa saya harapkan sekarang. Setidaknya saya berusaha mewujudkan untuk anak bungsu saya. Anak-anak saya yang sarjana boro-boro, mereka sukanya mendebat, kadang nggak ngerti orang tua lagi repot, merasa sudah pandai. Yang lebih parah lagi, bagaimana saya mau mengharapkan doanya kalau saya sudah mati wong sekarang disuruh solat aja masih harus disuruh-suruh. 

Iya sih ya? seperti saya yang masih awam, tatacara doa dan ibadah lainnya dengan baik saja enggak ngerti. Butuh yang teramat sangat untuk mengaji lagi. Apalagi jaman sekarang, jaman dimana banyak orang yang baru hapal ayat dan hadist sedikit sudah pandai mengkafir-kafirkan dan merasa paling benar. 

Aihhh jadi kangen almarhum kyai Soleh. Dulu sudah rela meluangkan waktu untuk ngaji, ngaji alfatihah dan kitab kuning meski kita pakai yang terjemah, semoga amal ibadahnya diterima dan tak terputus, khusnul khotimah mas kyai, amin, Alfatihah.

Back to the title. Sulthon kudu mondok. Ini sih semacam wajib, karena abahnya juga dulu mondok, otomatis anaknya kudu mondok. Abahnya siap lahir batin. Nah, ini bagian yang sedikit sulit buat saya. Perasaannya campur aduk. Maklum, mamah muda sok-sokan. Iye kaaan? 

Tapi katanya kudu mantap. Iyess mantap. Demi mencetak anak yang sholeh. Yang bakal saya harapkan nanti doanya diakhirat kelak. Ok, jadi Sulthon, besok mondok ya?! Jadi santri yang baik. Jadi anak soleeeh, aamiin.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s